Kamis, 14 November 2019

Ketahui Tanda-Tanda Alergi Makanan Pada Anak

Menurut Food Allergy Research and Education, sekitar 1 dari 13 anak memiliki alergi terhadap setidaknya satu makanan. Sekitar 40% dari anak-anak tersebut mengalami reaksi alergi yang parah dan mengancam jiwanya. Masalah besarnya adalah kebanyakan orang tua tidak mengetahui bahwa anak mereka memiliki alergi terhadap makanan sampai anak mereka mengonsumi makanan pencetus alergi untuk pertama kalinya dan mengalami reaki alergi. Inilah pentingnya bagi orang tua untuk meluangkan waktu dengan anak-anak dan mewaspadai tanda-tanda terjadinya alergi terhadap makanan.

Ketika seorang anak memiliki alergi makanan, sistem kekebalan tubuh mereka akan bereaksi secara berlebihan dan menghasilkan antibodi terhadap makanan seolah itu adalah virus. Reaksi kekebalan tersebutlah yang memicu munculnya gejala alergi. Makanan pemicu alergi pada anak yang paling umum adalah kacang-kacangan, susu sapi, telur, seafood, kedelai, dan gandum.

Kenali Gejala Alergi Makanan Pada Anak

Alergi makanan dapat memberikan dampak buruk pada pernapasan, pencernaan, jantung, dan kulit anak. Berikut gejala alergi makanan pada anak yang dapat muncul dalam beberapa menit sampai satu jam setelah mengonsumsi makanan pencetus alergi, antara lain hidung tersumbat, batuk, diare, pusing, mual, gatal di sekitar mulut atau telinga, sesak napas, ruam kulit, bengkak pada bibir atau wajah, dan sebagainya.

Anak-anak terkadang sulit untuk menjelaskan secara detail mengenai gejala yang dialaminya, sehingga sebagai orang tua harus mampu menginterpretasikan apa yang dirasakan pada anak mereka. Mungkin ketika seorang anak mengalami reaksi alergi mengatakan sesuatu seperti “kayaknya ada yang nyangkut di tenggorokanku”, “mulut aku gatal”, atau “kok semuanya berputar”. Yang harus sangat diwaspadai adalah saat anak mengalami reaksi alergi parah atau disebut anafilaksis dengan tanda-tanda seperti sakit dada, kebingungan, pingsan, napas pendek, pembengkakan pada bibir, lidah, atau tenggorokan, kesulitan menelan, tampak membiru, atau nadi lemah.

Alergi Makanan vs Intoleransi Makanan

Bereaksi terhadap makanan tertentu tidaklan selalu berarti anak Anda memiliki alergi makanan, namun mungkin saja mereka mengalami intoleransi makanan. Perbedaannya adalah alergi makanan melibatkan sistem kekebalan tubuh, sementara intoleransi makanan biasanya terkait dengan sistem pencernaan. Alergi makanan cenderung lebih berbahaya dibandingkan intoleransi makanan, karena itu anak yang memiliki alergi makanan harus benar-benar menghindari makanan pencetus alergi.

Intoleransi makanan ternyata lebih umum terjadi daripada alergi makanan pada anak, dan berikut contohnya:

  • Intoleransi laktosa yang terjadi ketika tubuh seorang anak kekurangan enzim yang dibutuhkan untuk memecah gula dalam susu, dan biasanya menyebabkan gejala seperti gas, kembung, serta diare.
  • Sensitif terhadap gluten yang terjadi ketika tubuh seorang anak bereaksi terhadap protein yang disebut gluten dalam biji-bijian seperti gandum. Sensitif terhadap gluten dapat menyebabkan gejala seperti sakit kepala, sakit perut, dan kembung.
  • Sensitif terhadap zat tambahan makanan yang terjadi ketika tubuh seorang anak bereaksi terhadap pewarna, pengawet, atau zat tambahan lain dalam makanan; dan dapat menimbulkan gejala seperti ruam, mual, dan diare.

Gejala intoleransi makanan terkadang mirip dengan alergi makanan, sehingga mungkin sulit bagi orang tua untuk mengidentifikasinya. Oleh karena itu, jika anak Anda mengalami gejala yang mengarah pada alergi makanan, segera memeriksakannya ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Sumber:

  • Kids an Food Allergies: What to Look For - Healthline
2375 Dilihat