Senin, 06 Agustus 2018

Gejala Awal Kanker Serviks

artikel arlt

WHO pada tahun 2014 menyatakan terdapat lebih dari 92 ribu kasus kematian wanita akibat penyakit kanker dan sebesar 10,3% nya akibat kanker serviks (leher rahim). Jumlah kasus baru kanker serviks berjumlah hampir 21 ribu. Sejak tahun 2000 nampak penderitanya semakin muda usia.

Penelitian WHO pada tahun 2014 menyingkapkan kurangnya tindakan skrining penyakit kanker di Indonesia, khususnya untuk kanker serviks, yaitu sitologi serviks dan pulasan asam asetat, karena secara umum belum tersedia di pusat kesehatan primer. Hal ini berpengaruh pada jumlah kematian kanker serviks di Indonesia yang tergolong tinggi, sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan diagnosis. Ketika memeriksakan kondisinya, kanker sudah menyebar ke organ lain di dalam tubuhnya, sehingga pengobatan yang dilakukan menjadi semakin sulit.

Gejala: pada tahap awal, kanker serviks biasanya tidak memiliki gejala. Pendarahan tidak normal dari vagina, termasuk flek adalah gejala yang sering terlihat dari kanker serviks ini. Biasanya terjadi setelah berhubungan seks, di luar masa menstruasi, atau setelah menopause.

Selain pendarahan yang abnormal itu, gejala lain yang mungkin muncul adalah keluarnya cairan yang tanpa berhenti dari vagina dengan bau aneh atau berbeda dari biasanya, berwarna merah muda, pucat, cokelat, atau mengandung darah, rasa sakit setiap kali melakukan hubungan seksual dan perubahan siklus menstruasi tanpa diketahui penyebabnya, misalnya menstruasi yang lebih dari 7 hari untuk 3 bulan atau lebih, atau pendarahan dalam jumlah banyak.

Gejala kanker serviks tidak selalu terlihat dengan jelas, bahkan ada kemungkinan tidak muncul sama sekali. Sering kali, kemunculan gejala terjadi saat kanker sudah memasuki stadium akhir. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pap-smear secara rutin.

Penyebab: Hampir semua kasus kanker serviks disebabkan oleh virus human papillomavirus (HPV), kumpulan jenis virus yang menyebabkan kutil di tangan, kaki, dan alat kelamin. Ada banyak jenis virus HPV, yang sebagian besar tidak berbahaya. Tapi, beberapa di antaranya mengganggu sel-sel serviks untuk berfungsi secara normal dan akhirnya memicu kanker. Hpv sangat umum ditularkan melalui hubungan seks dan dapat menjadi penyebab munculnya kanker serviks.

Dari sekian banyak jenis HPV, ada dua jenis yang paling berbahaya yaitu virus HPV 16 dan 18, yang menyebabkan 70% kasus kanker serviks.

Screening untuk mendeteksi: screening kanker serviks dikenal dengan sebutan pap smear untuk mendeteksi adanya sel-sel abnormal yang berpotensi berubah menjadi sel kanker serviks, agar dapat dicegah secara maksimal.

Saat melakukan pap smear, sampel sel diambil dari serviks dan diperiksa di bawah mikroskop. Selama bertahun-tahun, sel-sel pada permukaan leher rahim mengalami banyak perubahan. Sel-sel ini bisa perlahan-lahan berubah menjadi kanker.

Pengobatan:

Operasi. Jika diagnosis dilakukan pada tingkat awal, pada beberapa kasus, hanya serviks yang diangkat, rahim bisa dibiarkan saja. Pada kondisi yang lebih serius, rahim perlu diangkat seluruhnya.

Kemoterapi. Untuk membunuh sel kanker yang menyebar.

Radioterapi. Langkah alternatif untuk kanker serviks stadium awal. Pada kasus tertentu, radioterapi juga bisa digunakan berdampingan dengan operasi. Untuk kasus kanker serviks stadium lanjut, biasanya dirawat dengan metode kombinasi kemoterapi dan radioterapi. Tetapi ini memiliki efek samping jangka panjang, termasuk menopause dini dan kemandulan.

Selama bulan Agustus hingga Desember 2018, Prodia bekerja sama dengan BPJS kesehatan mengadakan program pemeriksaan pap smear tanpa dikenakan biaya. Informasi lebih lanjut, klik disini.

2824 Views