Selasa, 04 September 2018

Deteksi Sejauh Mana Penuaan Dini Telah Terjadi

Untuk mendeteksi faktor-faktor yang berperan dalam proses penuaan dini agar dapat merancang terapi anti-aging yang sesuai dan mengevaluasi respon terapi yang diberikan, dilakukan pemeriksaan laboratorium, yaitu:

  1. Status Antioksidan

Walaupun tubuh dilengkapi dengan sistem antioksidan yang berfungsi untuk menangkal serangan radikal bebas, namun bila radikal bebas yang terbentuk jumlahnya berlebihan, tidak seimbang dengan kemampuan sistem antioksidan tubuh, maka diperlukan suplai dari luar.

Ada antioksidan yang diproduksi tubuh, yang disebut sebagai antioksidan endogen, misalnya gluthation peroxidase (GPx), superoxide dismutase (SOD) dan katalase. Sedangkan, antioksidan dari luar tubuh (antioksidan eksogen), misalnya vitamin C, vitamin E dan beta karoten. Untuk mengetahui status antioksidan tubuh dapat dilakukan pemeriksaan SOD, GPx dan status antioksidan total (SAT).

  1. Penanda Inflamasi

Terjadinya inflamasi (radang) di dalam tubuh, selain mengakibatkan sel-sel tubuh memproduksi senyawa-senyawa yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi dan bentuk sel-sel lainnya dengan akibat timbulnya berbagai penyakit, seperti penyakit jantung, kanker, syaraf dan autoimun, juga memicu penuaan.

Senyawa-senyawa yang diproduksi pada inflamasi itu, di antaranya adalah IL-6 yang merangsang hati memproduksi protein CRP. Karena itu, untuk mendeteksi adanya inflamasi dilakukan pemeriksaan IL-6, TNF-CX atau hs-CRP.

  1. Keseimbangan Hormon

Hormon adalah zat aktif yang dilepaskan kelenjar buntu (endokrin) langsung masuk ke dalam darah, yang secara spesifik akan mengatur fungsi organ atau jaringan tubuh yang letaknya jauh dari tempat hormon tersebut diproduksi. Hormon berfungsi untuk mengkatalisa dan mengatur berbagai proses metabolisme tubuh, termasuk menghambat reaksi-reaksi tertentu yang mengganggu.

Beberapa hormon spesifik yang berkaitan dengan proses penuaan adalah hormon pertumbuhan (growth hormon/GH), melatonin, DHEA (dehydro epiandrostenedion), testosteron, estrogen dan hormon tiroid (TSHs, FT4).

Pemeriksaan lain, yang baru-baru ini banyak dilakukan, adalah:

  1. Pemeriksaan Panjang Telonere

Dengan mengetahui panjang telomere seseorang dapat mengetahui seberapa efektivitas usianya, mendeteksi dini penyakit kronis, pengelompokan risiko penyakit, pemantauan efektivitas program perubahan gaya hidup sampai efektivitas pengobatan aging. Penuaan merupakan hasil dari penurunan jumlah ataupun fungsi dari sel. Setiap kali sel bereplikasi, telomere, yang merupakan struktur DNA, mengalami pemendekan sampai akhirnya mencapai satu titik tertentu di mana sel-sel tersebut tidak dapat bereplikasi dengan baik. Telomere adalah protein pada ujung kromosom yang terdiri dari susunan DNA berulang (tandem repeat) yang berperan sebagai tutup pada ujung kromosom dengan fungsi menjaga kromosom dari kerusakan dan memainkan peranan penting yang sangat signifikan pada proses penuaan.

Untuk memantau terapi anti-aging dilakukan pemeriksaan IGF-1:

  1. Pemeriksaan IGF-1

Penuaan ditandai dengan penurunan kadar hormon pertumbuhan (growth hormon/GH), atau sindrom defisiensi hyposomatotropin yang menyebabkan pipi mengendur, kerutan wajah bertambah, rambut menipis, otot mengecil, letih, mudah mengantuk dan kelemahan lainnya. Untuk memastikan apakah gejala itu akibat defisiensi GH, tetapi karena sekresinya berfluktuasi dilakukan pemeriksaan IGF-1 (insulin-like Growth factor-1) yang distimulasinya. IGF-1, yang dikenal sebagai somatomedin-C, faktor pertumbuhan yang menjadi mediator kerja GH. Selain untuk indikator uji defisiensi GH, pemeriksaan IGF-1 digunakan pula untuk memantau terapi hormon pertumbuhan.

6246 Dilihat