Jumat, 20 April 2018

Infeksi HPV Sebagai Penyebab Kanker Serviks

Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) adalah penyebab sekitar 99.7% kasus kanker serviks (leher rahim) yang selama ini menjadi beban kesehatan yang serius bagi wanita. Jenis kanker ini memiliki angka kejadian dan kematian terbanyak pada wanita di Indonesia. Sayangnya, infeksi HPV umumnya tidak bergejala dan baru diketahui saat keganasan telah menyebar luas (stadium invansif) dengan tingkat kesembuhan sangat rendah. Sebetulnya keganasan tersebut bisa kita cegah, asalkan infeksi HPV diketahui secara dini.

Terdapat 2 (dua) tipe HPV, yakni risiko rendah dan risiko tinggi. Infeksi HPV tipe risiko rendah dapat menimbulkan sedikit perubahan ringan yang bersifat sementara pada serviks dan tidak akan menimbulkan risiko terjadinya kanker. Namun tidak jarang HPV tipe risiko rendah menimbulkan semacam kutil pada alat kelamin pria maupun wanita (genital warts). Sementara, infeksi HPV tipe risiko tinggi yang menetap dapat menyebabkan perubahan bentuk sel serviks yang lambat laun terus berlanjut menjadi kanker serviks apabila tidak segera ditangani. Proses perubahan dari infeksi HPV risiko tinggi pada serviks menjadi kanker membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni kurang lebih 10-20 tahun.

Kelompok yang berisiko mengalami infeksi HPV menetap diantaranya adalah wanita berusia lebih dari 30 tahun, memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh (seperti HIV dan Lupus Erythematosus), dan kebiasaan merokok. Kebanyakan orang baik pria maupun wanita yang telah aktif secara seksual dapat terinfeksi HPV. Pada wanita, risiko infeksi HPV dapat meningkat apabila:

  • Melakukan hubungan seksual di usia belia

Pada masa pubertas, kondisi serviks masih belum berkembang sempurna (immature) dan sel serviks masih sangat aktif sehingga akan sangat mudah ditembus dan diubah oleh HPV.

  • Mempunyai banyak pasangan seks

Perlu diingat dan diwaspadai bahwa pria juga dapat terinfeksi HPV dan berpotensi menularkan kepada pasangannya atau siapa saja yang berhubungan seks dengannya. Berhubungan dengan banyak pasangan akan memperbesar kemungkinan tertular HPV dari pasangannya.

Infeksi HPV dapat berdiam lama di dalam tubuh seseorang tanpa disadari karena umumnya tidak menunjukkan gejala. Seseorang dapat terinfeksi HPV, jauh setelah melakukan hubungan seksual dan dapat sembuh dengan sendirinya tanpa menyebabkan masalah kesehatan. Meski demikian, sangatlah penting melakukan skrining terhadap penyakit yang dapat disebabkan oleh HPV, salah satunya kanker serviks.

Saat ini telah tersedia pemeriksaan HPV-DNA, yaitu pemeriksaan molekuler menggunakan metode hybrid capture II yang telah mendapatkan persetujuan dari Food and Drug Administration (FDA) untuk mendeteksi adanya DNA HPV tipe risiko tinggi pada bahan pemeriksaan (sampel) yang telah diambil dari serviks. Terdapat 13 jenis HPV tipe risiko tinggi yang dapat dideteksi, yakni 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68. FDA pun telah menyetujui penggunaan pemeriksaan HPV-DNA bersamaan dengan Pap Smear sebagai skrining primer kanker serviks, terutama pada wanita usia di atas 30 tahun. Pemeriksaan HPV-DNA juga dianjurkan jika hasil pemeriksaan Pap Smear tidak jelas atau membingungkan, untuk menentukan perlu atau tidaknya pemeriksaan kolposkopi.

Meski saat ini juga telah tersedia vaksin untuk mencegah infeksi HPV tipe risiko tinggi, namun hanya dapat melindungi dari 2 (dua) tipe saja, yakni 16 dan 18 yang artinya belum dapat memberikan manfaat perlindungan seutuhnya terhadap kanker serviks. Oleh karena itu, skrining kanker serviks masih tetap diperlukan bagi wanita yang sudah divaksin.

Terinfeksi HPV tipe risiko tinggi tidak sama dengan terkena kanker, namun dapat menimbulkan perubahan bentuk dalam sel dan kanker apabila infeksinya menetap.

8506 Dilihat