Kamis, 23 Agustus 2018

Lakukan Skrining Rutin Sebelum Kanker Leher Rahim Menghampiri

Meski tidak bergejala, kanker leher rahim stadium awal bisa dideteksi melalui skrining rutin (melakukan pemeriksaan tanpa menunggu munculnya gejala). Beberapa metode skrining kanker leher rahim yang saat ini dikenal, antara lain:

  1. Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA)

Pemeriksaan ini dilakukan dengan melihat langsung leher rahim yang telah dioles dengan larutan asam asetat 3-5%. Dalam waktu 10 menit, bila hasil olesan tersebut menunjukkan adanya perubahan warna, yaitu tampak bercak putih, maka kemungkinan ada kelainan di sel leher rahim. Sayangnya, pemeriksaan ini memiliki sensitivitas dan spesifitas yang rendah.

  1. Pemeriksaan Sitologi (Pap Smear)

Pemeriksaan untuk melihat adanya perubahan morfologi (bentuk dan fungsi) sel-sel leher rahim dengan teknik pewarnaan papanicolau, kemudian diamati di bawah mikroskop. Bahan pemeriksaan untuk pap smear diambil melalui liang vagina.

Terdapat 2 macam jenis pap smear, yaitu Pap Smear Konvensional dan Sitologi Serviks Berbasis Cairan (SSBC). Bedanya, pada metode SSBC, contoh lendir serviks dimasukkan ke dalam cairan khusus untuk memisahkan sel atau faktor pengganggu lainnya, sebelum dilihat di bawah mikroskop. Sehingga hasil pengamatan di bawah mikroskop akan lebih akurat.

  1. Pemeriksaan HPV-DNA

Pemeriksaan HPV-DNA adalah pemeriksaan molekuler yang secara langsung bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya virus HPV pada sel-sel yang diambil dari leher rahim. Food Drug and Administration (FDA) menyetujui penggunaan pemeriksaan HPV-DNA bersama-sama dengan pap smear sebagai skrining primer kanker leher rahim pada wanita, terutama pada usia di atas 30 tahun.

Siapa yang Perlu Melakukan Skrining?

Semua wanita yang pernah melakukan hubungan seksual sangat dianjurkan untuk melakukan skrining kanker leher rahim secara rutin, yaitu:

- Jika Anda berusia < 21 tahun: skrining dengan pap smear dilakukan 3 tahun setelah hubungan seksual pertama. Apabila hasilnya normal, selanjutnya dilakukan setahun sekali.

- Jika Anda berusia antara 21-30 tahun: skrining dengan pemeriksaan pap smear dilakukan setiap tahun atau sesuai dengan saran dokter apabila terdapat hasil yang tidak normal.

- Jika Anda berusia antara > 30 tahun: pemeriksaan pap smear dan HPV-DNA secara berkala. Wanita berusia > 30 tahun yang telah aktif secara seksual berisiko tinggi mengalami infeksi HPV yang menetap dan hal ini berkaitan erat dengan kejadian kanker leher rahim.

Skrining kanker leher rahim pun masih diperlukan pada kondisi-kondisi khusus seperti:

  1. Wanita yang telah diangkat rahimnya

- Jika sebelum rahim diangkat, pasien memiliki hasil pap smear abnormal (High-grade Squamous Intraepithelial Lesion/HSIL), ada riwayat lesi pra kanker (Cervical Intraepithelial Neoplasia/CIN) 2/3) atau belum pernah melakukan pemeriksaan pap smear, maka pemeriksaan dilakukan setiap tahun. Bila selama 3 tahun berturut-turut hasilnya negatif, maka setelah itu skrining bisa dihentikan.

- Jika sebelum rahim diangkat tidak memiliki riwayat pemeriksaan pap smear maupun HPV-DNA abnormal, skrining tidak perlu dilakukan.

  1. Wanita yang sudah divaksinasi

Pada kondisi pasca vaksinasi, skrining secara rutin tetap diperlukan karena:

- Vaksin yang tersedia saat ini tidak memberikan perlindungan terhadap keseluruhan jenis HPV tipe risiko tinggi (hanya tipe 16 dan 18),

- Perlindungan vaksin tidak akan sempurna jika tidak menerima vaksin yang lengkap, dan

- Vaksin tidak memberikan perlindungan sempurna kepada pasien yang sudah terinfeksi HPV tipe 16 dan 18.

Selama bulan Agustus hingga Desember 2018, Prodia bekerja sama dengan BPJS kesehatan mengadakan program pemeriksaan pap smear tanpa dikenakan biaya. Informasi lebih lanjut, klik di sini.

34840 Dilihat