Jumat, 19 Oktober 2018

Osteoporosis Bukan Monopoli Kaum Perempuan dan Usia Tua

Menganggap osteoporosis sebagai penyakit perempuan, dan waspada osteoporosis jika usia sudah mulai menua saja, merupakan mitos yang salah. Osteoporosis bukan monopoli kaum perempuan dan usia tua. Banyak faktor yang ternyata meningkatkan risiko osteoporosis, sehingga siapa saja bisa mengalaminya.

Tulang keropos atau osteoporosis, merupakan penyakit tak bergejala dan berlangsung lama yang disebabkan oleh hilangnya kepadatan tulang secara perlahanlahan. Bila tidak dideteksi dan diobati lebih awal, tulang menjadi semakin lemah dan lebih rapuh, sehingga lebih rentan mengalami patah tulang. Patah tulang sebagai akibat osteoporosis dapat menimbulkan nyeri, bahkan kematian dan membutuhkan biaya pengobatan yang tinggi.

Kebiasaan minum alkohol dan merokok, kurang asupan kalsium dan vitamin D, kurang aktivitas fisik, dan lain-lain membuat laki-laki memiliki risiko osteoporosis sama seperti perempuan. Di samping itu, gangguan makan dan latihan fisik berlebihan seperti pada perempuan muda yang aktif berolah raga, balet, senam, dan lain-lain yang sangat mementingkan berat badan rendah, membuat perempuan muda pun tak lepas dari risiko osteoporosis.

Penyakit Rickets akibat kurangnya vitamin D, kurang asupan kalsium, vegetarian atau mendapat pengobatan kortikosteroid untuk asma juga membuat anak-anak berisiko mengalami osteoporosis. Oleh karena itu, sudah semestinya saat ini kita harus mulai peduli terhadap osteoporosis, terlebih bila kita termasuk dalam individu yang berisiko.

Penilaian risiko osteoporosis akan menjadi lebih baik jika dilengkapi dengan pemeriksaan kesehatan tulang, dan hal ini salah satunya melalui pemeriksaan penanda biokimiawi tulang. Penanda biokimiawi tulang adalah pemeriksaan darah yang mampu menilai aktivitas pembentukan dan pembongkaran tulang, serta keseimbangan antara kedua aktivitas tersebut. Bila aktivitas penyerapan atau pembongkaran tulang lebih besar dibandingkan dengan aktivitas pembentukan tulang, maka kepadatan tulang akan cepat berkurang atau berisiko mengalami osteoporosis di kemudian hari.

Pemeriksaan penanda biokimiawi tulang mencakup C-Telopeptode (CTx) dan N-MID Osteocalcin. Pemeriksaan C-Telopeptide (CTx) bermanfaat untuk menilai pembongkaran (resorpsi) tulang, sedangkan N-MID Osteocalcin mampu menilai pembentukan tulang. Jika hasil pemeriksaan penanda biokimiawi tulang menunjukkan risiko osteoporosis Anda tinggi, konsultasikan hal tersebut dengan dokter. Jika perlu, dokter akan meminta Anda melakukan pemeriksaan lanjutan, misalnya pemeriksaan bone mineral density (BMD) untuk menentukan tingkat kepadatan dan kondisi tulang serta memastikan ada tidaknya.

10541 Dilihat