Selasa, 20 Juni 2017

Anak Gemuk Bikin Gemas atau Cemas ?

Anggapan bahwa anak montok dan gemuk adalah anak yang sehat dan terawat, ternyata tidak sepenuhnya benar dan justru perlu diwaspadai. Obesitas akan menghadapkan anak pada berbagai masalah kesehatan, seperti asma, perlemakan hati, gangguan jantung dan pembuluh darah, kencing manis, serta gangguan tidur yang ditandai dengan mendengkur.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak yang mengalami obesitas memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah dibandingkan anak dengan berat badan normal. Kurangnya rasa percaya diri telah dikaitkan dengan prestasi belajar yang menurun, dijauhi dalam pergaulan sehingga anak cenderung menutup diri. Selain itu, beberapa penelitian menemukan:

  • 8 dari 10 anak yang mengalami obesitas pada usia 10-15 tahun akan tetap mengalami obesitas pada usia ke-25.
  • Obesitas pada anak berusia < 8 tahun dapat meningkatkan risiko keparahan obesitas pada masa dewasa.
  • 1 dari 4 orang dewasa yang obesitas, ternyata pernah mengalami obesitas pada masa kanak-kanaknya.

Kegemukan atau obesitas telah menjadi masalah kesehatan serius di berbagai negara, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Kegemukan adalah akibat ketidakseimbangan jumlah kalori, yakni jumlah kalori yang masuk lewat makanan dan minuman lebih besar ketimbang jumlah kalori yang dikeluarkan untuk tumbuh kembang , metabolisme maupun beraktivitas. Ketidakseimbangan tersebut dipengaruhi oleh adanya interaksi dari berbagai faktor diantaranya keturunan, perilaku dan lingkungan.

Apakah anak saya mengalami obesitas ?

Menilai secara objektif, apakah anak Anda sehat berisi atau sudah dapat dikategorikan obesitas merupakan hal yang tidak mudah bagi orang tua. Namun, fakta bahwa anak Anda berukuran jauh lebih besar dan gemuk daripada anak seusianya, atau bahwa Anda harus membelikan baju beberapa nomor lebih besar daripada anak seusianya atau bahkan harus memakai baju ukuran dewasa, sebenarnya dapat dijadikan sebagai tanda peringatan.

Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), obesitas merupakan keadaan IMT (Indeks Massa Tubuh) anak yang berada di atas persentil ke-95 pada grafik tumbuh kembang anak sesuai jenis kelaminnya. Secara sederhana dapat dikenali dengan cara berikut:

  • Perhatikan adanya ciri fisik berupa muka bulat, jari-jari runcing, perut gendut, sekitar paha sering lecet akibat bergesekan saat berjalan, bila tidur ngorok, pada anak laki-laki penisnya terbenam karena tertekan oleh lemak di sekitarnya, dan pundaknya ada lipatan-lipatan
  • Jika berat anak (usia < 5 tahun) diplotkan pada KMS (Kartu Menuju Sehat) berada di atas garis hijau.
  • Hitung IMT dan plotkan pada grafik IMT dari CDC (Center of Disease Control) sesuai usia (> 2 tahun) dan jenis kelaminnya.
  • Kategori status berat badan anak berdasarkan metode IMT terkait dengan nilai persentil dari CDC dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Bagaimana menentukan kategori status berat badan pada anak ?

Contoh:

Seorang anak laki-laki bernama Dani, 10 tahun, memiliki berat badan (BB) 34 kg dan tinggi badan (TB) 121 cm atau 1,21 m.

Langkah 1- menghitung IMT

IMT = BB (kg)/(TB(m))2 = 34 kg/(1,21 m)2 = 23,22 kg/m2

Langkah 2 - memplotkan hasil pengukuran IMT ke dalam grafik IMT persentil berdasarkan usia dan jenis kelamin anak dari CDC.

Penentuan area dilakukan dengan memplotkan usia anak pada garis usia menggunakan grafik IMT persentil untuk anak laki-laki (Dani berusia 10 tahun) lalu tarik garisnya ke atas sesuai IMT-nya (IMT Dani 23,22 kg/m2). Dengan cara tersebut diketahui bahwa kategori status berat badan Dani berada pada daerah persentil > 95th atau pada area yang berwarna merah. Artinya Dani termasuk dalam kategori obesitas.

Berat badan dan IMT saja tidak cukup untuk diagnosis

IMT direkomendasikan oleh CDC dan AAP (American Academy of Pediatrics) sebagai uji saring untuk melihat status berat badan pada anak usia 2-19 tahun. Namun, IMT saja tidak cukup untuk menentukan apakah seorang anak termasuk dalam kategori obesitas atau tidak. Beberapa pemeriksaan laboratorium pendukung diperlukan untuk mengetahui kondisi kesehatan anak lebih lanjut.

Selain untuk mendukung diagnosis, pemeriksaan laboratorium juga diperlukan untuk menilai risiko kesehatan yang mungkin muncul akibat kondisi obesitas dan memberikan gambaran yang jelas mengenai status kesehatan anak. Beberapa jenis pemeriksaan yang dianjurkan dan manfaatnya sebagai berikut:

  1. Hematologi Rutin dan Gambaran Darah Tepi untuk melihat kemungkinan terjadinya anemia. Anak dan remaja yang mengalami obesitas berisiko mengalami anemia.
  2. Cholesterol Total, Cholesterol LDL Direk, Cholesterol HDL, Trigliserida, dan Apo B untuk menilai profil lemak. Umumnya, orang yang obesitas mengalami kelainan profil lemak, seperti trigliserida tinggi sementara HDL rendah.
  3. hs-CRP untuk menilai risiko terjadinya peradangan.
  4. Asam Urat untuk menilai risiko metabolik berupa hiperurisemia.
  5. Glukosa Puasa untuk menilai risiko terjadinya hiperglikemia.
  6. SGOT dan SGPT untuk menilai fungsi hati dan kemungkinan terjadinya perlemakan hati.
  7. Ureum dan Kreatinin untuk menilai fungsi ginjal.
  8. Lingkar Perut
  9. Tekanan Darah

Dengan deteksi dini risiko kesehatan yang mungkin muncul akibat obesitas pada anak, diharapkan dapat meminimalkan angka kecacatan dan kematian pada masa dewasa.

10845 views