Selasa, 25 Juli 2017

Hepatitis B dan C Mengancam Remaja

Istilah "hepatitis" dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati (liver) karena berbagai macam sebab, mulai dari infeksi virus hepatitis (A, B, C, D, E, F, dan G), pelemakan hati kronis akibat gaya hidup modern yang kurang gerak dengan pola makan tinggi lemak dan karbohidrat sampai dengan keracunan alkohol dan obat-obatab termasuk obat tradisional. Di Indonesia, hepatitis lebih banyak disebabkan oleh infeksi virus.

Radang hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis, paling umum dijumpai adalah hepatitis A, B, dan C, yang berbeda dari gejala, komplikasi, cara penularan dan pencegahannya. Gejala hepatitis A dan B biasanya dimulai dengan demam, pegal otot, mual, mata menjadi kuning dan air seni kemerahan. Namun tidak semua orang mengalami gejala seperti itu. Sedangkan gejala hepatitis C biasanya lebih ringan, bahkan tanpa gejala sampai sudah menjadi tahap sangat lanjut.

Pada umumnya, setelah terserang hepatitis A, penderita dapat sembuh secara sempurna. Sebagian besar penderita hepatitis B dapat sembuh, tapi sekitar 5-10% menjadi kronik yang dapat berkembang menjadi kronik kemudian sirosis hati, dan sebagian kecilnya menjadi kanker hati. Sedangkan penderita hepatitis C lebih banyak yang menjadi kronik, sebagian di antaranya berkembang menjadi sirosis hati dan sebagian kecil menjadi kanker hati. Memerlukan waktu 17-20 tahun untuk seorang penderita hepatitis B dan C berkembang menjadi sirosis hati atau kanker hati. Kedua kondisi tersebut sulit diobati dan masa survivalnya pendek, yang akhir-akhirnya adalah kematian.

Berbeda dengan hepatitis A yang lebih banyak ditularkan dari makanan yang terkontaminasi, penularan hepatitis B melalui kontak darah (inokulasi), atau hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi atau carrier (pembawa kuman). Hepatitis A dan B ada vaksin pencegahannya dan sebagian besar penderitanya akan sembuh tuntas dan punya kekebalan seumur hidup. Sedangkan hepatitis C, menular secara langsung dari penderita kepada orang lain melalui darah yang mengandung virus tersebut dan tidak ada vaksin untuk mencegah penyakit hepatitis C.

Menyerang kaum muda

Banyak para remaja yang banyak memakai tato, tindik telinga yang sekarang sedang trend atau menggunakan jarum suntik narkoba bersama penderita hepatitis B dan hepatitis C tidak menyadari dirinya berisiko tinggi bisa tertular. Prevalensi hepatitis C pada usia dewasa muda sekitar 30-40% artinya dari keseluruhan umur penderita hepatitis C, puncaknya adalah di usia dewasa muda.

Lebih baik mencegah

Sekitar 90% orang yang terkena hepatitis B atau C tidak menunjukkan gejala yang spesifik pada tahap awal sehingga sulit untuk mengetahuinya. Kalau hepatitis gejalanya baru bisa dilihat bila sudah parah, paling tidak kalau sudah nampak kuning, muntah darah, tidak sadar dan perut bengkak. Pada fase awal paling-paling yang dapat dicurigai adalah munculnya rasa cepat lelah, namun itu tidak spesifik.

Oleh karena itu, kalau pernah pakai narkotika suntik, punya penyakit hemofilia atau pernah cuci darah, atau thalassemia sebaiknya lakukan pemeriksaan laboratorium apakah ada hepatitis C atau tidak. Pencegahan dengan imunisasi juga sangat menghemat biaya jika dibandingkan dengan biaya penyembuhan. Pencegahan hepatitis yang tak kalah penting adalah dengan melakukan perbaikan gaya hidup sehat. Perbanyak konsumsi buah dan sayur karena antioksidannya dapat melindungi kesehatan liver.

Tinggal sama-sama dengan penderita hepatitis sebetulnya tidak apa-apa, karena hepatitis B dan C ditularkan melalui darah, bukan makanan. Hindari penggunaan jarum suntik, pisau cukur, sikat gigi, dan barang pribadi lain yang bisa menimbulkan pendarahan secara bersama.

13984 views