Rabu, 16 Desember 2020

Sindrom Metabolik Berbahaya bagi Kesehatan, Ini Penyebab dan Gejalanya

Pernahkah kamu mendengar istilah sindrom metabolik? Sindrom ini merupakan sekumpulan gejala penyakit yang terjadi pada seseorang, di antaranya:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi),
  • Gula darah tinggi
  • Obesitas (indeks massa tubuh lebih dari 25 kg/m2)
  • Kelebihan lemak tubuh di sekitar pinggang atau obesitas sentral (lingkar pinggang >90 cm untuk pria dan >80 cm untuk wanita)
  • Kadar kolesterol atau trigliserida yang tidak normal.

Sindrom metabolik dapat meningkatkan risiko kamu terkena penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe-2. Menurut DMS Journal, sindrom metabolik memengaruhi sekitar 28 persen pria dan 46 persen wanita di Indonesia.

Penyebab sindrom metabolik

Kelebihan berat badan dan jarang melakukan aktivitas fisik disebut-sebut sebagai penyebab sindrom metabolik. Kondisi ini juga dikaitkan dengan resistensi insulin. Insulin adalah hormon yang dibuat oleh pankreas yang membantu gula diserap oleh sel tubuh untuk digunakan sebagai energi.

Pada orang yang mengalami resistensi insulin, sel-sel tidak merespons insulin secara normal dan gula darah tidak dapat diserap dengan mudah. Akibatnya, kadar gula darah meningkat meski tubuh menghasilkan banyak insulin untuk menurunkan gula darah.

Resistensi insulin sering kali terjadi pada orang yang mengalami kelebihan berat badan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini akan menjadi diabetes melitus tipe-2.

Faktor risiko sindrom metabolik

A beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko kamu terkena sindrom metabolik, di antaranya:

  • Usia. Risiko sindrom metabolik meningkat seiring bertambahnya usia.
  • Obesitas. Memiliki berat badan berlebih, terutama di perut bisa meningkatkan risiko sindrom metabolik.
  • Diabetes. Sindrom metabolik lebih mungkin terjadi apabila kamu memiliki diabetes gestasional (kehamilan) atau riwayat keluarga dengan diabetes tipe-2.
  • Penyakit lain. Risiko sindrom metabolik lebih tinggi jika kamu pernah menderita penyakit, seperti penyakit jantung, penyakit perlemakan hati nonalkoholik, atau sindrom ovarium polikistik (PCOS).

Gejala sindrom metabolik

Salah satu tanda sindrom metabolik yang mudah diketahui adalah lingkar pinggang besar. Selain itu, jika kadar gula darah tinggi, kamu dapat mengalami gejala diabetes, seperti haus, sering buang air kecil, kelelahan, dan penglihatan kabur.

Kamu juga dapat didiagnosis mengalami sindrom metabolik apabila memiliki tiga dari kondisi berikut:

  • Lingkar pinggang lebih dari 90cmpada pria dan 80 cm pada wanita
  • Kadar trigliserida 150 mg/dLatau lebih
  • Kadar kolesterol baik HDL kurang dari 40 mg/dL pada pria dan kurang dari 50 mg/dL pada wanita
  • Gula darah puasa lebih dari 100 mg/dL
  • Tekanan darah sistolik lebih dari 130 mm/Hg dan diastolik lebih dari 85 mm/Hg.

Pengobatan dan pencegahan sindrom metabolik

Jika kamu didiagnosis mengalami sindrom metabolik, tujuan pengobatan yang dilakukan berfokus pada mengurangi risiko komplikasi.

Dokter akan merekomendaskan perubahan gaya menjadi lebih sehat dan meresepkan obat untuk mengurangi tekanan darah, kolesterol, atau gula darah.

Khusus untuk pencegahan, berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah sindrom metabolik.

  • Menjaga berat badan pada kisaran yang ideal
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
  • Rutin berolahraga minimal 30 menit setiap hari
  • Berhenti merokok.
  • Menghindari stress berlebihan
  • Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
  • Patuh pada pengobatan yang dianjurkan oleh dokter, misalnya pada orang yang memerlukan obat-obatan untuk mengontrol kadar gula darah, kolesterol, dan hipertensi.

Jangan lupa juga untuk memeriksakan diri ke dokter secara teratur untuk memantau kondisi kesehatan kamu.

 

 

Referensi:

DMS Journal. https://dmsjournal.biomedcentral.com/articles/10.1186/s13098-019-0503-1

Diakses pada 16 Oktober 2020

 

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459248/

Diakses pada 16 Oktober 2020

 

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/metabolic-syndrome/symptoms-causes/syc-20351916

Diakses pada 16 Oktober 2020

2274 views