Untuk memastikan seseorang terkena prediabetes, dapat melalui pemeriksaan gula darah puasa, 2...
Untuk memastikan seseorang terkena prediabetes, dapat melalui pemeriksaan gula darah puasa, 2 jam setelah makan dan pemeriksaan HbA1C.
- Glukosa Darah Puasa
Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan dilakukan setelah berpuasa selama 8-10 jam. Hasil 100-125 mg/dL menunjukkan prediabetes, karena GPT (Glukosa Puasa Terganggu).
- Tes Toleransi Glukosa Oral
Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan dilakukan 2 jam sesudah pemberian 75 gram glukosa dalam 300 ml air. Hasil 140-199 mg/dL menunjukkan prediabetes, karena TGT (Toleransi Glukosa Terganggu).
- HbA1c (Hemoglobin A1c).
Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan dapat dilakukan kapan saja. Hasil 5,7-6,4% menunjukkan prediabetes.
Pencegahan diabetes adalah satu-satunya cara untuk mengurangi beban diabetes dan komplikasinya. Intervensi gaya hidup (pembatasan kalori dan aktivitas fisik intensitas moderat) pada penyandang prediabetes sangat bermanfaat dalam mencegah perkembang diabetes tipe-2 dan mampu mengurangi insidensi prediabetes menuju diabetes. Sebaliknya, upaya pencegahan diabetes dengan obat ternyata memiliki kelemahan termasuk di antaranya toksisitas, tolerabilitas, biaya dan efikasi yang lebih rendah dibanding intervensi gaya hidup.
Berbagai studi epidemiologis belum semuanya menggunakan cara pemeriksaan glukosa darah 2 jam paska beban untuk menegakkan diagnosis prediabetes, dan hanya menggunakan hasil glukosa darah puasa. Hal itu dapat menimbulkan hasil negatif palsu, karena dengan cara itu kondisi TGT tidak akan terdeteksi. Padahal, seseorang yang memiliki kadar glukosa darah puasa normal bila dilakukan TTGO, bisa saja termasuk dalam kasus TGT. Perlunya mendeteksi kondisi TGT mengingat kecenderungan DMT2 dan risiko terjadinya komplikasi kardiovaskular, lebih tinggi pada orang dengan kasus TGT, bila dibandingkan pada individu dengan GPT.
Patofisiologi prediabetes umumnya didasari atas perubahan sensitivitas insulin dan fungsi B-pankreas. TGT dan GPT menunjukkan adanya mekanisme patofisiologi yang berbeda dari kedua kondisi tersebut. Meskipun TGT dan GPT didasari oleh resistensi insulin, tetapi keduanya menunjukkan perbedaan tempat di mana resistensi insulin itu terjadi. Resistensi insulin pada penderita GPT terutama terjadi pada jaringan hati, sedangkan sensitifitas insulin pada jaringan otot masih tetap normal. Pada kasus TGT, sensitifitas insulin di jaringan hati tetap normal atau sedikit menurun, sedangkan pada jaringan otot telah terjadi resistensi insulin.
Selain itu, pola sekresi insulin pada kedua kondisi tersebut juga berbeda. Pada GPT terjadi penurunan sekresi insulin fase satu (10 menit pertama) setelah pemberian glukosa intravena dan terjadi penurunan respon sekresi insulin fase awal (30 menit pertama) setelah pemberian glukosa oral. Sedangkan sekresi insulin fase lambat (60-120 menit) selama TTGO tetap normal. Pada TGT juga terjadi gangguan sekresi insulin fase awal setelah pemberian glukosa oral yang disertai dengan penurunan yang bermakna dari sekresi insulin fase akhir.
Pemeriksaan HbA1c juga telah direkomendasikan oleh ADA sebagai pemeriksaan pilihan untuk mendiagnosis diabetes (> 6,5%), dan juga untuk mendeteksi peningkatan risiko penyakit diabetes (5,7-6,4%), atau yang disebut dengan prediabetes. Sekarang ini, HbA1c telah dinyatakan sebagai penanda yang lebih baik dibandingkan glukosa plasma dalam usaha untuk memprediksi risiko mortalitas dan penyakit kardiovaskular pada mereka yang non-diabetik, namun ada yang berpendapat bahwa hasilnya kurang baik bila dibandingkan dengan pemeriksaan konsentrasi glukosa 2 jam, walauoun tidak semua studi mendukung pernyataan itu. HbA1c, glukosa plasma puasa dan glukosa plasma 2-jam menilai aspek metabolisme glukosa yang berbeda, akan tetapi perbedaan dalam hubungan dari ketiga glikemik itu untuk mengukur resistensi insulin, sekresi insulin dan abnormalitas metabolik lainnya, masih belum dapat dijelaskan secara pasti.