Jumat, 01 November 2019

Peduli Thalassemia, Prodia Gelar Skrining Thalassemia di Palembang

PALEMBANG, 30 Oktober 2019 – Sejalan dengan komitmen Prodia untuk memutus mata rantai thalassemia di Indonesia, PT Prodia Widyahusada Tbk (Kode Saham: PRDA) kembali melaksanakan skrining thalassemia dan sosialisasi mengenai penyakit thalassemia di Markas Palang Merah Indonesia (PMI), Palembang. Acara ini dihadiri oleh Ketua PMI Provinsi Sumatera Selatan Hj. Febrita Lustia Herman Deru, Ketua Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassaemia Indonesia (POPTI) Palembang Dian Agustini, Legal Head & Corporate Secretary Prodia Marina Eka Amalia, dan Branch Manager Prodia Palembang Ermayati.

Thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang diturunkan secara genetik yang memiliki jenis dan frekuensi terbanyak di dunia. Berdasarkan data dari Bank Dunia, 7% dari populasi dunia merupakan pembawa sifat thalassemia. Setiap tahun sekitar 300.000-500.000 bayi baru lahir disertai dengan kelainan hemoglobin berat, dan 50.000 hingga 100.000 anak meninggal akibat thalassemia dan 80% dari jumlah tersebut berasal dari negara berkembang. Saat ini, Indonesia termasuk salah satu negara dalam sabuk thalassemia dunia, yaitu negara dengan frekuensi gen atau angka pembawa sifat thalassemia yang tinggi.

“Skrining Thalassemia ini merupakan program CSR Prodia yang telah dilakukan secara berkelanjutan sejak tahun 2010. Dengan adanya skrining thalassemia ini, kami berharap dapat turut berkontribusi dalam memutus mata rantai thalassemia di Indonesia. Selain skrining thalassemia, kami juga aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai info kesehatan di berbagai kota di seluruh Indonesia,” ujar Legal Head & Corporate Secretary Marina Eka Amalia di sela-sela skrining thalassemia di Markas PMI, Palembang (30/10).

Berdasarkan data dari Lembaga Eijkman, thalassemia ditemukan pembawa sifat terbanyak ditemukan di Pulau Sumatera, dan sekitar hampir 10% di daerah Palembang. “Komitmen Prodia dalam memutus mata rantai penyakit Thalassemia di Indonesia diwujudkan melalui sosialisasi dan edukasi ke masyarakat terutama para pelajar sekolah menengah keatas dan universitas dan kegiatan skrining thalassemia di beberapa wilayah yang memiliki angka thalassemia yang cukup tinggi,” tambah Marina.

Thalassemia dapat dicegah dengan cara menghindari perkawinan antara sesama pembawa sifat. Oleh karena itu, salah satu upaya pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan melakukan skrining thalassemia dengan cara melakukan pemeriksaan darah, di samping edukasi pada masyarakat mengenai thalassemia, dan konseling sebelum pernikahan.

Saat ini untuk mendapatkan pengobatan optimal, pasien thalassemia membutuhkan biaya sekitar 300-400 juta rupiah setiap tahunnya. Biaya ini akan meningkat seiring bertambahnya usia pasien, berat badan, dan komplikasi yang dialaminya. Lebih lanjut, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, pembiayaan kesehatan untuk thalasemia menempati posisi ke-5 di antara penyakit tidak menular setelah penyakit jantung, kanker, ginjal, dan stroke. Biayanya sebesar 225 milyar rupiah di tahun 2014 dan menjadi 452 milyar rupiah di tahun 2015. Pada 2016 menjadi 496 milyar rupiah, 532 milyar di tahun 2017, dan sebesar 397 milyar sampai dengan bulan September 2018.  

“Kami berterima kasih kepada Prodia yang telah berkomitmen untuk melakukan kegiatan skrining Thalassemia setiap tahunnya. Sosialisasi dan edukasi mengenai seluk beluk penyakit thalassemia perlu terus dilakukan terutama kepada generasi muda agar dapat mencegah penyebaran thalassemia,” tutur Ketua Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassaemia Indonesia (POPTI) Palembang Dian Agustini, pada saat sosialisasi dan edukasi Skrining Thalassemia, di Markas PMI tersebut.  

Selain skrining thalassemia, Prodia bekerjasama dengan POPTI Palembang mengadakan seminar tentang Anak dan Darah bersama dr. Mediarty Syahrir, Sp.PD-KHOM, edukasi mengenai Thalassemia di Indonesia dan Pentingnya Skrining Thalassemia bagi masyarakat untuk memutus thalassemia.

******

Tentang PT Prodia Widyahusada Tbk.

Laboratorium klinik Prodia didirikan pertama kali di Solo pada 7 Mei 1973 oleh beberapa orang idealis berlatar belakang pendidikan farmasi. Sejak awal, Bapak Andi Widjaja beserta seluruh pendiri lainnya tetap menjaga komitmen untuk mempersembahkan hasil pemeriksaan terbaik dengan layanan sepenuh hati.

Sebagai pemimpin pasar, sejak 2012 Prodia merupakan satu-satunya laboratorium dan klinik di Indonesia dengan akreditasi College of American Pathologists (CAP). Sehingga kualitas hasil tes dari laboratorium Prodia sejajar dengan laboratorium internasional.
 
Pada 7 Desember 2016, Bursa Efek Indonesia (BEI) meresmikan pencatatan saham perdana Prodia sebagai emiten ke-15 di tahun 2016, dengan kode saham “PRDA”. Dalam aksi korporasi itu, Prodia telah menawarkan saham perdana sebanyak 187,5 juta lembar saham. Dengan demikian, dana yang diraih dari penawaran umum perdana saham (IPO) perseroan mencapai sebesar Rp1,22 triliun.

Hingga saat ini, Prodia telah mengoperasikan jejaring layanan sebanyak 285 outlet di 34 provinsi dan 125 kota di seluruh Indonesia, beberapa diantaranya merupakan Prodia Health Care (PHC) yakni layanan wellness clinic yang berbasis personalized medicine serta specialty clinics yang terdiri dari Prodia Children’s Health Centre (PCHC), Prodia Women’s Health Centre (PWHC) dan Prodia Senior Health Centre (PSHC).

Untuk informasi lebih lanjut, dapat mengunjungi www.prodia.co.id atau menghubungi:

Marina Eka Amalia
Legal Head & Corporate Secretary
PT Prodia Widyahusada Tbk. 
Ph.      +62-21 3144182 ext 3816
E-mail:   corporate.secretary@prodia.co.id

955 Dilihat