Senin, 04 November 2019

Pencanangan Bulan Thalassemia: Prodia dan Pemerintah Kabupaten Banyumas Gelar Skrining Thalassemia Bagi 1.000 orang

PURWOKERTO, 2 November 2019 – PT Prodia Widyahusada Tbk (Kode Saham: PRDA) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas mencanangkan Bulan Thalassemia di Kabupaten Banyumas. Pencanangan Bulan Thalassemia diselenggarakan dengan tujuan dalam rangka upaya berkesinambungan untuk menurunkan prevalensi thalassemia di Kabupaten Banyumas. Acara ini dihadiri oleh Bupati Banyumas Achmad Husein, Ketua Yayasan Thalassemia Indonesia Ruswandi, Legal Head & Corporate Secretary Prodia Marina Eka Amalia, dan Branch Manager Prodia cabang Purwokerto Yudith Yanuar Arifin.  

“Skrining Thalassemia ini merupakan program CSR Prodia yang telah dilakukan secara berkelanjutan sejak tahun 2010. Dengan adanya skrining thalassemia ini, kami berharap dapat turut berkontribusi dalam memutus mata rantai thalassemia di Indonesia. Selain skrining thalassemia, kami juga aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai info kesehatan di berbagai kota di seluruh Indonesia,” ujar Legal Head & Corporate Secretary Prodia Marina Eka Amalia di sela-sela Pencanangan Bulan Thalassemia (2/11).  



Thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang diturunkan secara genetik yang memiliki jenis dan frekuensi terbanyak di dunia. Berdasarkan data dari Bank Dunia, 7% dari populasi dunia merupakan pembawa sifat thalassemia. Setiap tahun sekitar 300.000-500.000 bayi baru lahir disertai dengan kelainan hemoglobin berat, dan 50.000 hingga 100.000 anak meninggal akibat thalassemia dan 80% dari jumlah tersebut berasal dari negara berkembang. Saat ini, Indonesia termasuk salah satu negara dalam sabuk thalassemia dunia, yaitu negara dengan frekuensi gen atau angka pembawa sifat thalassemia yang tinggi.

Kabupaten Banyumas merupakan salah satu wilayah yang menyumbang angka prevalensi Thalassaemia yang cukup besar. Tercatat pertambahan individu Thalassaemia di Banyumas adalah; pada tahun 2006 tercatat 52 orang, tahun 2007 adalah 58, tahun 2008 menjadi 63, tahun 2009 jumlah mencapai 66 orang, dan pada tahun 2018 individu dengan thalassemia di Banyumas sudah mencapai 500 an orang.  (Setyono, 2009).



“Komitmen Prodia dalam memutus mata rantai penyakit Thalassemia di Indonesia diwujudkan melalui sosialisasi dan edukasi ke masyarakat terutama para pelajar sekolah menengah keatas dan universitas dan kegiatan skrining thalassemia di beberapa wilayah yang memiliki angka thalassemia yang cukup tinggi,” tambah Marina. Pada tahun 2019, Prodia telah melakukan kegiatan skrining thalassemia di beberapa kota diantaranya Bandung, Depok, Bogor, Kuningan, dan Palembang.

Dalam rangka Pencanangan Bulan Thalassemia ini, Prodia melakukan kegiatan skrining thalassemia kepada sekitar 1.000 orang yang terdiri dari pelajar sekolah dan masyarakat umum di wilayah Kabupaten Banyumas. Adapun lokasi pelaksanaan skrining tersebut dilakukan di SMAN 1 Ajibarang, SMKN 2 Banyumas dan Pendopo Kabupaten Banyumas pada tanggal 29-30 Oktober 2019 dan 2 November 2019.  

Saat ini untuk mendapatkan pengobatan optimal, pasien thalassemia membutuhkan biaya sekitar 300-400 juta rupiah setiap tahunnya. Biaya ini akan meningkat seiring bertambahnya usia pasien, berat badan, dan komplikasi yang dialaminya. Lebih lanjut, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, pembiayaan kesehatan untuk thalasemia menempati posisi ke-5 di antara penyakit tidak menular setelah penyakit jantung, kanker, ginjal, dan stroke. Biayanya sebesar 225 milyar rupiah di tahun 2014 dan menjadi 452 milyar rupiah di tahun 2015. Pada 2016 menjadi 496 milyar rupiah, 532 milyar di tahun 2017, dan sebesar 397 milyar sampai dengan bulan September 2018.  

Thalassemia dapat dicegah dengan cara menghindari perkawinan antara sesama pembawa sifat. Oleh karena itu, salah satu upaya pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan melakukan skrining thalassemia dengan cara melakukan pemeriksaan darah, di samping edukasi pada masyarakat mengenai thalassemia, dan konseling sebelum pernikahan.

*****

Tentang PT Prodia Widyahusada Tbk

Laboratorium klinik Prodia didirikan pertama kali di Solo pada 7 Mei 1973 oleh beberapa orang idealis berlatar belakang pendidikan farmasi. Sejak awal, Bapak Andi Widjaja beserta seluruh pendiri lainnya tetap menjaga komitmen untuk mempersembahkan hasil pemeriksaan terbaik dengan layanan sepenuh hati.

Sebagai pemimpin pasar, sejak 2012 Prodia merupakan satu-satunya laboratorium dan klinik di Indonesia dengan akreditasi College of American Pathologists (CAP). Sehingga kualitas hasil tes dari laboratorium Prodia sejajar dengan laboratorium internasional.
 
Pada 7 Desember 2016, Bursa Efek Indonesia (BEI) meresmikan pencatatan saham perdana Prodia sebagai emiten ke-15 di tahun 2016, dengan kode saham “PRDA”. Dalam aksi korporasi itu, Prodia telah menawarkan saham perdana sebanyak 187,5 juta lembar saham. Dengan demikian, dana yang diraih dari penawaran umum perdana saham (IPO) perseroan mencapai sebesar Rp1,22 triliun.

Hingga saat ini, Prodia telah mengoperasikan jejaring layanan sebanyak 285 outlet di 34 provinsi dan 125 kota di seluruh Indonesia, beberapa diantaranya merupakan Prodia Health Care (PHC) yakni layanan wellness clinic yang berbasis personalized medicine serta specialty clinics yang terdiri dari Prodia Children’s Health Centre (PCHC), Prodia Women’s Health Centre (PWHC) dan Prodia Senior Health Centre (PSHC).

Untuk informasi lebih lanjut, dapat mengunjungi www.prodia.co.id atau menghubungi:

Marina Eka Amalia
Legal Head & Corporate Secretary
PT Prodia Widyahusada Tbk. 
Ph.      +62-21 3144182 ext 3816
E-mail:   corporate.secretary@prodia.co.id

1224 Dilihat