Jumat, 17 Januari 2020

Mengenal Pemeriksaan Laboratorium Fungsi Tiroid

Kelenjar tiroid memiliki peranan yang sangat penting dalam mengendalikan metabolisme tubuh dengan memproduksi hormon tiroid, terutama triiodothyronine (T3) dan thyroxine (T4).

Kelenjar tiroid juga menghasilkan hormon calcitonin untuk membantu pengaturan kadar kalsium dalam darah dengan menghambat reabsorpsi tulang dan meningkatkan eliminasi kalsium dari ginjal.

Kerja kelenjar tiroid dikontrol oleh kelenjar pituitari (hipofisis). Ketika kadar hormon tiroid dalam tubuh terlalu rendah, kelenjar pituitari melepaskan thyroid stimulating hormone (TSH) untuk merangsang produksi lebih banyak hormon tiroid. Jika kadar hormon tiroid dalam tubuh sudah memadai, kelenjar pituitari mengurangi produksi TSH.

Keseimbangan hormon tiroid merupakan kunci dari kondisi kelenjar tiroid yang sehat. Terlalu berlebihan atau kekurangan produksi hormon tiroid dapat menimbulkan berbagai gangguan. Wanita lebih cenderung mengalami gangguan tiroid dibandingkan pria. Menurut American Thyroid Association, 1 dari 8 wanita pernah mengalami gangguan tiroid selama hidupnya.

Gangguan tiroid yang umum terjadi, antara lain:

1. Hipotiroid

Hipotiroid adalah kondisi kelenjar tiroid tidak menghasilkan cukup hormon tiroid. Hipotiroid mungkin tidak menyebabkan gejala nyata di tahap awal, namun seiring waktu dan jika tidak dirawat dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan seperti obesitas, infertilitas, nyeri sendi, dan penyakit jantung. Pada anak-anak, hipotiroid dapat menghambat pertumbuhan dan menunda perkembangan seksual.

Beberapa jenis penyakit tiroid yang spesifik dari hipotiroid, antara lain:

- Hipotiroid bawaan (congenital hypothyroidism)

Beberapa bayi dilahirkan dengan kelenjar tiroid yang tidak berkembang secara normal atau bahkan tidak memiliki kelenjar tiroid karena alasan yang tidak diketahui, sehingga tidak dapat menghasilkan hormon yang cukup. Bayi dengan hipotiroid kongenital seringkali tampak normal saat lahir, namun jika tidak ditangani dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan fisik dan perkembangan intelektual. Inilah yang menjadi salah satu alasan pentingnya skrining (uji saring) hipotiroid pada bayi baru lahir agar dapat meminimalkan masalah kesehatan jangka panjang.

- Hashimoto’s thyroiditis

Penyebab paling umum hipotiroid adalah autoimun yang dikenal sebagai Hashimoto’s thyroiditis. Autoimun terjadi ketika sistem kekabalan tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang jaringan tubuh sendiri, disebut sebagai autoantibodi. Pada kondisi ini, autoantibodi menyerang komponen kelenjar tiroid sehingga mempengaruhi kemampuan kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid.

- Kekurangan yodium

Yodium sangat penting untuk memproduksi hormon tiroid. Terlalu sedikit yodium menyebabkan hipotiroid, dan terlalu banyak yodium dapat memperburuk hipotiroid pada orang yang sudah memiliki kondisi tersebut.

2. Hipertiroid

Hipertiroid terjadi ketika kelenjar tiroid menghasilkan terlalu banyak hormon thyroxin. Hipertiroid dapat mempercepat metabolisme tubuh, menyebabkan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, dan peningkatan detak jantung atau detak jantung tidak teratur.

Beberapa jenis penyakit tiroid yang spesifik dari hipertiroid, antara lain:

- Penyakit Graves

Penyakit Graves adalah autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menghasilkan autoantibodi yang merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon thyroxin dalam jumlah yang berlebihan. Kondisi ini merupakan penyebab paling umum hipertiroid.

- Tiroiditis

Tiroiditis adalah peradangan kelenjar tiroid yang mungkin dapat disebabkan oleh kondisi pasca-kehamilan, autoimun, infeksi, atau karena alasan yang tidak ketahui. Peradangan ini dapat menyebabkan bocornya kelebihan hormon tiroid yang tersimpan dalam kelenjar tiroid ke aliran darah. Beberapa jenis tiroiditis dapat menimbulkan rasa sakit seperti sakit tenggorokan dan yang lain mungkin tidak menimbulkan rasa sakit.

Gangguan tiroid kerap sulit diidentifikasi karena tidak menimbulkan gejala nyata di tahap awal. Meski beberapa ada yang menimbulkan gejala namun tidak spesifik atau dapat menjadi gejala dari masalah kesehatan yang lain. Di sinilah salah satu alasan diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui seberapa baik atau buruknya fungsi kelenjar tiroid.

Jenis pemeriksaan laboratorium yang terkait dengan tiroid, antara lain:

1. Tyhroid Stimulating Hormone (TSH)

Thyroid stimulating hormone (TSH) adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari dan berfungsi merangsang kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon thyroxine (T4) dan triiodothyronine (T3). Pemeriksaan TSH mengukur kadar TSH dalam darah sebagai skrining (uji saring) dan membantu diagnosis gangguan tiroid, serta bermanfaat untuk memantau pengobatan hipotiroid dan hipertiroid. Pemeriksaan TSH bersama dengan free T4 (FT4) biasanya dianjurkan sebagai pemeriksaan awal untuk skrining fungsi tiroid.

2. Thyroxine (T4)

Thyroxine (T4) adalah salah satu dari dua hormon utama yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Hormon tiroid utama lainnya, yaitu triiodothyronine (T3). T4 dan T3 secara bersama-sama mempunyai fungsi untuk mengatur metabolisme tubuh. Hampir sebagian besar T4 ditemukan dalam bentuk terikat dengan protein dalam darah. Sisanya dalam jumlah kecil tidak terikat dengan protein yang disebut sebagai free T4 (FT4) dan merupakan bentuk aktif biologis dari hormon.

Pemeriksaan T4 mencakup T4 Total dan FT4. Pemeriksaan T4 Total mengukur kadar T4 dalam bentuk bebas (tidak terikat dengan protein) dan terikat dengan protein dalam darah. Pemeriksaan FT4 mengukur kadar T4 dalam bentuk bebas (tidak terikat dengan protein) dalam darah. Pemeriksaan T4 Total dan FT4 bermanfaat untuk membantu evaluasi fungsi kelenjar tiroid, membantu diagnosis gangguan tiroid, sebagai uji saring hipotiroid pada bayi baru lahir, memantau efektivitas pengobatan gangguan tiroid.

3. Triiodothyronine (T3)

Triiodothyronine (T3) adalah salah satu dari dua hormon utama yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Hormon tiroid utama lainnya, yaitu thyroxin (T4). T3 dan T4 secara bersama-sama mempunyai fungsi untuk mengatur metabolisme tubuh. Hampir sebagian besar T3 ditemukan dalam bentuk terikat dengan protein dalam darah. Sisanya dalam jumlah kecil tidak terikat dengan protein yang disebut sebagai free T3 (FT3) dan merupakan bentuk aktif biologis dari hormon.

Pemeriksaan T3 mencakup T3 Total dan FT3. Pemeriksaan T3 Total mengukur kadar T3 dalam bentuk bebas (tidak terikat dengan protein) dan terikat dengan protein dalam darah. Pemeriksaan FT3 mengukur kadar T3 dalam bentuk bebas (tidak terikat dengan protein) dalam darah. Pemeriksaan T3 Total dan FT3 bermanfaat untuk membantu evaluasi fungsi kelenjar tiroid, mendiagnosis gangguan tiroid (terutama hipertiroid) dan menentukan penyebabnya, serta memantau efektivitas pengobatan gangguan tiroid.

4. Tiroglobulin

Tiroglobulin adalah protein yang diproduksi oleh kelenjar tiroid yang sehat, namun protein ini juga dapat diproduksi oleh sel-sel kanker. Pemeriksaan tiroglobulin mengukur kadar tiroglobulin dalam darah untuk memantau pengobatan kanker tiroid dan mendeteksi kekambuhan, serta terkadang untuk membantu penentuan penyebab hipertiroid dan hipotiroid.

5. Autoantibodi Tiroid

Autoantibodi tiroid merupakan antibodi yang berkembang ketika sistem kekebalan tubuh seseorang keliru menargetkan komponen dari kelenjar tiroid, sehingga dapat menyebabkan peradangan kronis pada tiroid, kerusakan jaringan tiroid dan/atau gangguan fungsi tiroid.

Pemeriksaan autoantibodi tiroid bermanfaat untuk membantu diagnosis dan memantau penyakit tiroid autoimun, serta membedakan dengan penyakit tiroid lainnya; membantu dalam penentuan pengobatan. Terdapat tiga jenis pemeriksaan autoantibodi tiroid yang paling umum, yaitu thyroid peroxidase antibodies (Anti-TPO), thyroid-stimulating hormone receptor antibodies (TRAb), dan antibodi triglobulin (Anti-Triglobulin).

Sumber:

301 Dilihat