Bagaimana Cara Turunkan Risiko Kematian Akibat Serangan Jantung?

19 September 2017

Banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya serangan jantung atau yang dikenal dengan...

Banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya serangan jantung atau yang dikenal dengan Acute Myocardial Infarct (AMI), namun penyebab utamanya adalah adanya penyumbatan pada pembuluh darah arteri koroner yang terdapat di jantung. Serangan Jantung ini dimulai dengan terjadinya penyumbatan pembuluh darah sebagai akibat Penyakit Arteri Koroner (Coroner Artery Disease), dan dipicu oleh pembentukan bekuan darah (trombus).

Bayangkan, apabila terjadi penyumbatan pada arteri koroner yang bertugas mengalirkan darah untuk membawa oksigen dan nutrisi ke otot jantung, tentulah akan terjadi kematian jaringan akibat kekurangan pasokan oksigen yang diperlukan jaringan otot jantung, serta ketidakmampuan menghilangkan sampah hasil metabolisme. Selain itu, proses itu diikuti pula dengan perubahan biokimiawi dalam tubuh, yang tergantung pada berbagai faktor seperti berat ringannya iskemia (kekurangan aliran darah ke otot jantung), usia dan jenis kelamin. Perubahan biokimiawi yang terjadi itu, adalah:

- Perubahan pada detik-detik pertama. Kekurangan aliran darah ke otot jantung yang dikenal dengan iskemia dengan cepat akan mengakibatkan terjadinya perubahan biokimiawi dalam tubuh.

- Perubahan pada menit-menit pertama. Aliran darah yang tidak lancar menyebabkan terganggunya pembersihan dan penumpukan sampah hasil metabolisme yang dihasilkan oleh sel normal. Perubahan yang terjadi pada beberapa menit pertama masih dapat kembali normal (reversible), misalnya pembersihan penyumbatan dan reperfusi aliran darah akan mengembalikan fungsi sel menjadi normal kembali. Namun, bila penyumbatan terjadi pada waktu yang lebih lama maka akan mengakibatkan kerusakan yang permanen (irreversible).

- Perubahan yang berkaitan dengan kerusakan permanen (irreversible). Kerusakan ini ditandai dengan pelepasan zat seperti enzim dan protein. Zat tersebut akan masuk ke dalam aliran darah, dan dapat diukur kadarnya.

Penderita penyakit arteri koroner mungkin mengalami gejala yang berkaitan dengan penyakitnya, disebut dengan angina pectoris. Dan, mungkin pula tidak menunjukkan gejala yang mencurigakan, yang dikelompokkan sebagai silent myocardial ischemia. Gejala umum yang terjadi adalah nyeri di dada. Penderita dengan nyeri dada pada waktu istirahat diklasifikasikan sebagai angina tidak stabil (unstable angina) yang merupakan suatu sindroma akut berkaitan dengan koyaknya plak, agregasi trombosit dan pembentukan bekuan darah (trombus). Angina tidak stabil yang diakibatkan tersumbatnya arteri koroner secara total akan menjadi Myocardial Infarct (MI).

Deteksi Dini dengan Penanda Jantung

Deteksi dan pengobatan yang tepat terhadap penderita dengan angina tidak stabil akan mengurangi risiko terjadinya serangan jantung, dan menurunkan angka kematian akibat penyakit ini. Untuk diagnosis dan penentuan tingkat risiko untuk meramalkan perjalanan penyakit diperlukan peran penanda yang memadai. Saat ini, selain digunakan untuk penetapan diagnosis angina tidak stabil dan MI, serta menilai risiko, penanda biokimia juga telah digunakan untuk infarct sizing (penentuan ukuran infark), pemantauan reperfusi pasca terapi trombolitik, deteksi plak yang koyak, peradangan pada pembuluh darah, iskemia otot jantung, sampai timbulnya kondisi akut seperti angina tidak stabil maupun MI.

Salah satu manfaat penggunaan penanda jantung adalah menentukan ukuran keparahan infark miokardial. Penentuan ukuran infark ini berguna untuk penatalaksanaan penderita infark miokardial di kemudian hari. Perkembangan penanda biokimia dengan sensitivitas yang tinggi dapat dipakai untuk penentuan kerusakan ringan pada otot jantung, seperti pada angina tidak stabil misalnya karena membedakan angina tidak stabil dan MI sangat penting dalam penanganan penderita.

- Myoglobin

Myoglobin adalah protein heme pengikat oksigen yang strukturnya mirip hemoglobin, terdapat pada oto jantung dan otot skelet (rangka). Kerusakan sel yang terjadi saat AMI akan melepaskan myoglobin ke dalam aliran darah. Pada penderita dengan AMI, kadar myoglobin dapat meningkat hingga 10 kali dari batas normal atas. Kadar myoglobin akan mulai meningkat 2 jam setelah nyeri dada dan mencapai puncaknya pada 6-9 jam namun kembali normal 24-36 jam setelah mengalami infark. Sementara itu, CK-MB kadarnya abnormal 6 jam setelah serangan dan mencapai puncak 12-24 jam serta kembali normal setelah 48 jam. Myoglobin merupakan penanda paling awal dalam diagnosis AMI.

- Creatine Kinase-MB Mass (CK-MB Massa)

Sekitar 20% penderita AMI tidak terdeteksi dengan echocardiography (ECG), sehingga diperlukan pemeriksaan parameter biokimia untuk membantu menegakkan diagnosis, seperti pemeriksaan CK-MB. Pemeriksaan CK-MB massa lebih unggul dibandingkan dengan pemeriksaan aktivitas enzim CK-MB terdahulu, karena dapat meningkatkan sensitivitas diagnosis MI yang dibuat dalam kurun waktu 8-48 jam. Selain itu, CK-MB massa dipakai juga dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan terapi trombolitik sehingga dapat segera dilakukan pengobatan lain.

Sekitar 5-20% penderita angina tidak stabil akan berkembang menjadi MI atau mati mendadak dalam kurun waktu sekitar satu tahun. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa kejadian fatal ini umumnya menunjukkan adanya mikro infark. Pemeriksaan CK-MB massa dapat mendeteksi perpanjangan iskemia pada penderita angina tidak stabil. Pada penelitian penggunaan CK-MB massa untuk risiko MI dilaporkan bahwa CK-MB massa dapat mendeteksi kelompok penderita dengan iskemia jantung dan mempunyai perjalanan penyakit yang jelek dan tidak terdeteksi oleh prosedur diagnosis rutin.

- Cardiac Troponin I

cTnI (cardiac Troponin I) merupakan penanda biokimiawi jantung yang sangat sensitif dan spesifik untuk diagnosis AMI. cTnI dilepaskan ke dalam aliran darah 4-8 jam setelah timbulnya nyeri dada. cTnI akan mencapai puncaknya 14-36 jam setelah timbulnya AMI dan akan tetap meningkat selama 3-7 hari. Karena peningkatan yang panjang ini, cTnI dapat mendeteksi penderita dengan AMI yang timbulnya lambat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa cTnI merupakan penanda yang baik untuk keberhasilan reperfusi setelah terapi trombolitik.

Dari pemahaman yang lebih baik dan mendalam tentang patofisiologi dan penanganan Acute Coronary Syndrome (ACS) dengan lebih baik, mendorong para ilmuwan maupun perusahaan diagnostik untuk meningkatkan atau mencari penanda jantung baru. Kebutuhan akan diagnosis AMI secara dini ataupun tingkatan risiko pada angina tidak stabil ditunjukkan dengan adanya uji klinik besar yang melibatkan terapi trombolitik. Terapi trombolitik merupakan terapi yang digunakan dalam penanganan penderita AMI dan keterlambatan pemberian terapi kepada pasien akan berakibat fatal. Dengan adanya kombinasi penanda jantung yang memadai memungkinkan gejala AMI diketahui lebih dini dan tentunya menurunkan angka kematian akibat serangan jantung.