Setiap anak punya kebutuhan gizi atau nutrisi yang berbeda.
Orang tua modern cenderung memberi makan anak mereka berdasarkan iklan makanan dan suplementasi bayi, dan berbagai teori modern dari berbagai penerbitan maupun acara televisi. Mereka mengabaikan fakta, bahwa dengan keunikan masing-masing setiap anak akan butuh makan sesuai dengan kebutuhan individualnya, baik dari jenis makanan, jumlah, maupun jadwal dan waktunya.
Ada anak yang produksi laktasenya terbatas, maka ia akan tidak doyan susu. Di pihak lain, ada yang daya serap pencernaannya rendah, sehingga makan terus tetapi tidak jadi gemuk. Ada pula yang daya serap pencernaannya efisien, sehingga cukup makan sedikit sudah membuat mereka energetik.
Pengaturan yang berlebihan terhadap pola makan anak, secara bertahap akan menumpulkan dan ‘merevisi’ naluri pertumbuhan alamiahnya. Ibarat ayam, ia menjadi anak ayam yang tumbuh di peternakan, yang diberi makan sesuai jadwal dan gizi standard agar cepat ‘bongsor’ untuk tujuan bisa cepat 'dipanen’. Disini naluri alamiah anak tergantikan oleh aturan makan dari sang orang tua. Padahal jika ia makan sesuai naluri yang built-in di dalam tubuhnya, ia tidak akan kekurangan berat badan maupun menjadi kegemukan. Anak-anak desa yang belum tercemar pola makan modern dan anak-anak suku terasing tidak ada yang mengalami obesitas.
Kesadaran Baru Bagi Orang Tua
Jika anak Anda mengalami obesitas, jangan buru-buru mencari penyebabnya dari luar. Luangkan waktu untuk memeriksa apakah Anda sudah menjauhkan anak dari naluri makan, sadari perasaan Anda sendiri tentang cara Anda merawat anak Anda. Mulailah menyadari hal-hal di bawah ini:
1. Makanan berfungsi sebagai sumber energi untuk beraktivitas.
Ketika energinya berkurang karena terpakai, maka anak Anda akan didorong oleh rasa laparnya untuk makan lagi. Jadi ukuran porsi dan waktu makan lebih tepatnya adalah ditentukan oleh rasa lapar yang timbul karena kebutuhan-kebutuhan alamiahnya.
Kalau anak Anda banyak beraktivitas dan mungkin makannya jadi banyak, ini adalah hal yang alamiah dan tidak akan membuat ia menjadi gemuk.
2. Anak perlu diberi pilihan beberapa macam makanan.
Pemaksaan pada makanan tertentu akan menumpulkan fungsi selera sebagai indikator kebutuhan tubuhnya. Ada 2 ekstrem yang mungkin bisa terjadi bila anak terlalu diatur makanannya. Ia bisa menjadi anak yang benci makanan sehingga kekurangan gizi, atau ia jadi kegemukan karena apa saja yang disodorkan kepadanya dimakan.
3. Salah satu penyebab obesitas yang berasal dari orang tua adalah empati yang berlebihan.
Terdapat konsep bahwa kondisi perut ‘yang ideal’ adalah perut yang selalu kenyang, dan makan yang membawa sejahtera adalah makan yang berlimpah.
4. Lepaskan mitos bahwa apa yang dihidangkan di meja makan harus dihabiskan.
Lebih percayai nafsu makan, selera makan dan aktivitas sang anak. Kalau seharian ia tidak banyak bergerak, maka tubuhnya juga tidak butuh banyak makan.
Ketahui kondisi obyektif anak. Kalau ia sedang marah, maka emosinya itu akan menutup semua nalurinya untuk makan. Redakan dulu kemarahannya, usahakan ia menemukan solusi dari sumber kemarahannya, baru makan.
5. Makan adalah a serious business.
Jangan membiasakan anak makan sambil main playstation, nonton televisI, dan sebagainya. Dengan fokus hanya pada kegiatan makan, maka ‘alarm’ tubuhnya senantiasa peka memberi tanda kecukupan dari makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Kebiasaan ini juga bisa menghindarkan si anak dari menggunakan makanan untuk menghibur diri di saat stres.