DENPASAR - Berbagi Informasi Autoimun dengan Para Dokter, Prodia Gelar Autoimmune Wellness

03 May 2018

DENPASAR, 28 April 2018 - Autoimun merupakan penyakit yang diakibatkan adanya gangguan sistem...

DENPASAR, 28 April 2018 - Autoimun merupakan penyakit yang diakibatkan adanya gangguan sistem imun yang ditandai dengan reaktivitasi sistem imun baik sel T maupun sel B (autoantibodi) melawan sel tubuh sendiri (autoantigen). Penyakit autoimun yang sering ditemukan seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang umum dikenal dengan penyakit lupus dengan angka kejadian LSE di Indonesia sebesar 0,5% dari total populasi penduduk Indonesia.

Penyakit autoimun belum bisa dipastikan penyebabnya dan gejalanya pun tidak khusus akibatnya penyakit autoimun ini tidak mudah dikenali sehingga memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosisnya. Jumlah dokter ahli penyakit autoimun pun belum banyak di Indonesia sehingga seringkali ketika dirujuk sudah parah karena tidak dikenali sejak dini.

Melihat kejadian ini, Prodia sebagai laboratorium klinik yang menjadi "centre of excellence" bagi para mitra kerja, salah satunya para dokter di Indonesia, mengadakan sharing informasi dalam bentuk seminar nasional yang akan diselenggarakan di 18 kota besar di Indonesia yang mengangkat penyakit autoimun sebagai tema besarnya. Seminar nasional mengusung tema Good Doctor for Better Autoimmune Treatments. Dengan adanya seminar nasional bersama para dokter ini, diharapkan para dokter mendapatkan informasi lebih lengkap seputar penyakit, dalam hal ini adalah autoimun. Sehingga dapat mengenali penyakit autoimmune sejak dini .

Seminar nasional ini berlangsung di Gedung Grha Sewaka Darma Lt.3, Denpasar dengan menghadirkan Dr. dr. K. Suryana, SpPD- KAI dan Dr. dr. Gatot Soegiarto, SpPD-KAI sebagai pembicara yang akan memaparkan patofisiologi, jenis-jenis autoimun, faktor risiko, diagnosis pencegahan dan pengelolaan (termasuk nutrisi) serta Product Specialist Manager PT Prodia Widyahusada Tbk Trilis Yulianti, PhD. yang akan memaparkan seputar peran biomarker dalam penegakan diagnosis autoimun serta pemeriksaan pendukung.

Dr. dr. K.Suryana mengatakan, penting bagi kita untuk meng-update informasi terkait penyakit autoimun kepada rekan-rekan dokter, agar para dokter dapat melakukan tindakan medis yang tepat bagi pasien yang bergejala. "Penelitian terkait penyakit autoimun memang jarang, karena jenis penyakit autoimun sendiri ada 80 jenis. Oleh karena itu sangat penting bagi para dokter untuk mendapatkan update informasi, agar para dokter dapat melakukan tindakan medis yang tepat bagi pasien yang bergejala maupun yang sudah mengalami autoimun." jelasnya.

Selaras dengan pernyataan Dr. dr. K. Suryana, Dr. dr. Gatot juga mengungkapkan penting bagi para dokter untuk mendapatkan informasi terbaru terhadap suatu penyakit, khususnya autoimun ini, karena angka kejadiannya cukup mengkhawatirkan. Belum lagi kebanyakan dialami para wanita. "Angka kejadian penyakit autoimun cukup mengkhawatirkan, apalagi kejadiannya lebih tinggi dialami oleh wanita dibandingkan pria. Oleh karena itu penting sekali bagi para dokter untuk mengetahui lebih banyak informasi terkait penyakit autoimun ini." tuturnya.

Dr. dr. K.Suryana menambahkan, "Autoimun memang paling banyak terjadi karena genetik, tetapi saat ini telah ada penelitian yang menyatakan bahwa defisiensi atau kekurangan kadar vitamin D dalam tubuh dapat menjadi salah satu faktor risiko seseorang mengalami penyakit autoimun. Karena setelah diteliti ke mereka yang mengalami penyakit autoimun ditemukan nilai kadar vitamin D-nya sangat kecil. Kita juga perlu berhati-hati dengan ini dan para dokter perlu tahu."

Di Indonesia prevalensi defisiensi vitamin D pada wanita berusia 45-55 tahun adalah sekitar 50%. Penelitian di Indonesia dan Malaysia menemukan defisiensi vitamin D sebesar 63% terjadi pada wanita usia 18-40 tahun. Sedangkan penelitian pada anak 1-12,9 tahun, ditemukan 45% anak mengalami insufisiensi vitamin D.

Trilis Yulianti, PhD. mengatakan Prodia menyediakan pemeriksaan-pemeriksaan lab yang dapat menunjang diagnosis para dokter terhadap penyakit autoimun ini. "Prodia menyediakan pemeriksaan ANA IF, ANA Profile, ANTI dsDNA NcX, ProALD, AMA M2, yang dapat dimanfaatkan para dokter untuk menunjang diagnosis penyakit autoimun. Pemeriksaan lanjutan terkait jenis-jenis autoimun itu sendiri pun tersedia, misalnya saja AIH untuk autoimun hepatitis Laju Endap Darah (LED), ANA, antobodi spesifik seperti: Antitopoisomerase-1 (anti-scl-70) dan Anticentromere antibody (ACA) serta urinalisis, untuk diagnosis sklerodema, dan masih banyak lagi. Prodia juga menyediakan pemeriksaan Vitamin D-25 OH Total untuk menilai kecukupan vitamin D dalam tubuh." terangnya.

Direktur Bisnis dan Marketing PT Prodia Widyahusada Tbk Indriyanti Rafi Sukmawati menyatakan bahwa seminar nasional ini rutin dilakukan dengan para dokter untuk memfasilitasi para dokter di seluruh Indonesia terkait informasi ter-update seputar penyakit, gejala, diagnosis, hingga pengobatannya. "Melalui seminar nasional bersama para dokter ini, Prodia ingin memfasilitasi para dokter yang ada di seluruh Indonesia untuk mendapatkan informasi terkait penyakit ter-update ataupun penyakit yang angka kejadiannya cukup banyak, tetapi belum menjadi perhatian. Mulai dari bagaimana gejala penyakit tersebut, seperti apa penanganan yang tepat, dan seberapa berbahaya penyakit tersebut. Tema-tema yang dipilih Prodia juga akan disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan para dokter untuk diketahui lebih dalam," ungkap Indriyanti.

Lebih lanjut Indriyanti mengungkapkan, sebagai laboratorium klinik pertama yang mengusung Next Generation Medicine, serta gencar dalam edukasi P4 medicine, yang salah satu di antaranya adalah preventive medicine, Prodia merasa perlu turut andil untuk melakukan tindakan maupun kegiatan yang mendukung terwujudnya tindakan pereventif di tengah masyarakat. "Saat ini tindakan preventif itu perlu dilakukan oleh kita masyarakat umum agar dapat terhindar dari risiko terburuk sebuah penyakit. Agar masyarakat bisa melakukan tindakan preventif sejak dini, diperlukan informasi dan juga semacam ajakan dari para dokter kepada pasien ataupun instansi kesehatan seperti kami, Prodia, kepada para pelanggan, agar kita mulai membiasakan diri untuk melakukan tindakan preventif terhadap penyakit." tambah Indriyanti.

*****

Tentang PT Prodia Widyahusada Tbk.

Laboratorium klinik Prodia didirikan pertama kali di Solo pada 7 Mei 1973 oleh beberapa orang idealis berlatar belakang pendidikan farmasi. Sejak awal, Dr. Andi Widjaja, MBA beserta seluruh pendiri lainnya tetap menjaga komitmen untuk mempersembahkan hasil pemeriksaan terbaik dengan layanan sepenuh hati.

Sebagai pemimpin pasar, sejak 2012 Prodia merupakan satu-satunya laboratorium dan klinik di Indonesia dengan akreditasi College of American Pathologists (CAP). Sehingga kualitas hasil tes dari laboratorium Prodia sejajar dengan laboratorium internasional.

Hingga saat ini, Prodia akan memasuki usia 45 tahun ini telah mengoperasikan jejaring layanan sebanyak 284 outlet, termasuk 137 laboratorium klinik di 33 provinsi dan 119 kota di seluruh Indonesia, beberapa diantaranya merupakan Prodia Health Care (PHC) yakni layanan wellness clinic yang berbasis personalized medicine serta specialty clinics yang terdiri dari Prodia Children' s Health Centre (PCHC), Prodia Women' s Health Centre (PWHC) dan Prodia Senior Health Centre (PSHC).

Pada usia yang akan menginjak 45 tahun, Prodia mengusung tema influencing the future. Tema ini dipilih Prodia karena Prodia berharap kehadiran layanan dan fasilitas yang dimiliki dan dikembangkan dapat menginspirasi dan memberikan pengaruhi positif bagi dunia kesehatan mulai saat ini hingga pada masa yang akan datang.

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:

Reskia Dwi Lestari

Marketing Communications Manager

PT Prodia Widyahusada Tbk.

Ph. +62-21 3144182 ext 3768

E-mail marcomm@prodia.co.id