Hasil Pencarian

Hasil pencarian dari ""


  • 04 Juli 2018 artikel

    Perhatikan faktor risiko penyebab kolesterol tinggi

    Gangguan kolesterol tinggi datang tanpa gejala, sehingga usaha pencegahan sejak dini harus dilakukan agar kita dapat menikmati hidup lebih lama. Beberapa dari faktor risiko yang perlu diperhatikan tetapi tidak dapat dikontrol, yaitu usia, jenis kelamin dan genetik, tetapi banyak faktor risiko lain yang sebenarnya dapat dikontrol:Usia dan Jenis KelaminKadar kolesterol anak-anak pada masa pertumbuhannya sampai usia puber biasanya meningkat drastis sampe level tertentu untuk turun kembali ke normal. Setelah itu, pada usia dewasa akan meningkat kembali karena adanya gangguan keseimbangan pada fungsi metabolisme tubuhnya atau asupan berlebihan dari makanan.Anak-anak yang memiliki kadar kolesterol abnormal, karena mengalami gangguan metabolik, misalnya pada anak obesitas, nantinya di usia dewasa berisiko mengalami penyakit jantung.Pada usia puber, pria cenderung memiliki kadar kolesterol tinggi, karena kadar HDL-nya lebih rendah. Dibandingkan wanita yang terlindungi oleh hormon estrogen yang berkontribusi menjaga level HDL tetap tinggi. Namun, setelah menopause, wanita kehilangan hormon estrogen, sehingga kadar HDL turun dan saat bersamaan kadar LDL dan trigliserida meningkat, sehingga risiko terkena penyakit jantung sama dengan pria.GenetikFaktor genetik berperan besar dalam menentukan kadar kolesterol darah seseorang, apakah dia itu memiliki kadar HDL rendah, kadar LDL dan trigliserida yang tinggi, atau kadar lipoprotein lainnya yang tinggi. Jika keluarganya mempunyai riwayat hiperkolesterol ada kemungkinan dia juga memiliki kadar kolesterol tinggi, khususnya LDL, sehingga risiko terkena penyakit jantung prematur akan tinggi pula.Anak-anak yang memiliki latar belakang keluarga dengan penyakit jantung prematur tersebut harus menjalani pengujian kadar kolesterol setelah berusia dua tahun.Gaya HidupGaya hidup yang berisiko mengalami kolesterol tinggi adalah mereka yang hidup santai (kurang bergerak) sehingga menjadi gemuk berlebihan (obesitas), yang nampak pada bagian perut yang membuncit.Untuk itu kontrollah dengan melakukan olahraga secara teratur. Kebiasaan lain yang buruk, seperti merokok harus dihindari, karena rokok mengurangi kadar kolesterol baik dan membantu terjadinya penumpukan lemak di dinding pembuluh darah arteri jantung. Juga hindari alkohol yang dapat meningkatkan kadar trigliserida dalam darah.Pola MakanPola makan yang banyak mengonsumsi lemak jenuh dan lemak trans adalah penyebab utama terjadinya peningkatan kadar kolesterol di dalam darah, terutama LDL. Imbangilah dengan makanan kaya serat yang membantu menghalangi penyerapan lemak tersebut di usus.Selain itu, kurangi pula makanan yang banyak mengandung karbohidrat, karena gula berlebihan dapat meningkatkan kadar trigliserida.

  • 02 Mei 2018 artikel

    Pengambilan Darah yang Aman dan Nyaman, tanpa Rasa Takut

    Praktek pengambilan darah atau disebut juga dengan istilah flebotomi telah dilakukan berabad-abad dan masih merupakan prosedur invasive (tindakan medis yang melibatkan memasukkan alat ke bagian tubuh dengan cara merusak jaringan seperti ditusuk) yang paling umum dilakukan.Memahami kekhawatiran dan keengganan kebanyakan pasien untuk diambil darah, dan menyadari bahwa tahap pengambilan darah merupakan tahap kritis yang menentukan kualitas sampel, maka setiap laboratorium klinik harus menyusun prosedur flebotomi.Selain ketakutan terhadap jarum suntik, ada beberapa hal yang umumnya membuat seseorang enggan untuk diambil darah, seperti:ketakutan terinfeksi penyakit akibat penggunaan jarum bekasketakutan akan rasa sakitketakutan melihat darahkecurigaan bahwa sampelnya mungkin tertukar dengan yang lain Sesuai dengan misi Prodia “Untuk Diagnosa Lebih Baik” dan komitmen untuk melayani dengan sepenuh hati maka Prodia menempatkan proses flebotomi sebagai proses yang sangat penting dan kritis, yang harus mendapatkan perhatian serius. Apalagi data dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesalahan/error yang terjadi di labratorium, penyebab terbesarnya (68%) terjadi pada tahap preanalitik, diantaranya pada proses flebotomi. Oleh karena itu, Prodia menyusun prosedur flebototomi sesuai ketentuan CLSI (Clinical Laboratory Standard Institute) dan melakukan sejumlah evaluasi yang dibuat khusus untuk memantau dan memastikan agar tahapan tersebut berjalan dengan baik dan aman, baik bagi pasien maupun petugas. 

  • 02 Mei 2018 artikel

    Kenali Lemak dan Bahaya Kolesterol

    Kolesterol tidak dapat larut dalam darah sehingga membutuhkan "carrier" atau protein pembawa yang membawa kolesterol ke seluruh tubuh. Protein pembawa disebut apolipoprotein / apoprotein (apo). Kesatuan antara kolesterol dan apolipoprotein itu dikenal sebagai lipoprotein dan lipoprotein yang paling banyak dikenal yaitu LDL dan HDL. LDL (Low Density Lipoprotein) LDL seringkali disebut "kolesterol jahat" karena dapat menempel di dinding pembuluh darah dan mempersempit rongga pembuluh darah. Mengonsumsi makanan kaya lemak jenuh berlebihan dapat meningkatkan kadar LDL. Kadar LDL yang tinggi meningkatkan risiko Anda terhadap kejadian penyakit jantung. HDL (High Density Lipoprotein) HDL seringkali disebut sebagai "koleterol baik" karena bertugas untuk membawa kelebihan kolesterol yang tertinggal di pembuluh darah lalu membawanya ke hati untuk diproses lebih lanjut. Kadar HDL yang tinggi dipercaya dapat melindungi Anda terhadap kejadian penyakit jantung. Kadar kolesterol yang tinggi di dalam darah akan menyebabkan kolesterol tersebut menempel di dinding bagian dalam pembuluh darah arteri dan membentuk ateroma atau plak, sehingga pembuluh darah menyempit dan akhirnya menimbulkan serangan jantung jika menghambat pembuluh darah menuju jantung atau stroke jika menghambat pembuluh darah arteri yang menuju otak. Trigliserida Trigliserida adalah salah satu jenis lemak yang ditemukan dalam darah. Saat kita makan, tubuh mengubah kalori yang tidak digunakan dalam bentuk trigliserida yang kemudian disimpan dalam sel lemak. Trigliserida dilepaskan untuk menghasilkan energi saat tubuh membutuhkannya. Jika kalori yang dikonsumsi lebih banyak dibanding kalori yang digunakan, maka kadar trigliserida akan meningkat. Peningkatan kadar trigliserida dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan menjadi tanda adanya sindrom metabolik. Sindrom metabolik adalah kombinasi antara peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar gula darah, kelebihan lemak di sekitar perut (obesitas sentral), kadar HDL yang rendah dan kadar trigliserida yang tinggi. Sindrom metabolik akan meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke.

  • 02 Mei 2018 artikel

    Beda Pemeriksaan, Beda Waktu Ambil Hasilnya

    Di Laboratorium Klinik Prodia, waktu selesai hasil pemeriksaan dikenal dengan sebutan Waktu Selesai Hasil Pemeriksaan (WSHP). WSHP di Prodia juga bergantung kepada jenis tes dan jenis alat yang digunakan untuk mengerjakan sampel pemeriksaan. Waktu selesai hasil memiliki perhatian tersendiri di Prodia karena kecepatan penerimaan hasil menentukan kecepatan penanganan lanjutan pasien. Waktu selesai hasil pemeriksaan sangat bergantung dari jenis pemeriksaan yang dilakukan oleh pasien. Oleh karena itu ada hasil pemeriksaan yang dapat selesai hanya beberapa jam saja dan ada pula hasil pemeriksaan yang dapat diambil beberapa hari pasca pemeriksaan. Proses WSHP di Prodia Pasien datang ke Prodia untuk melakukan pemeriksaan laboratorium atau non laboratorium Dilakukan identifikasi oleh petugas pelayanan terkait jenis pemeriksaan yang akan dilakukan, apakah dapat diambil sampel atau tidak. Sampel diserahkan ke bagian distribusi sampel, kemudian dilakukan pengecekan identitas dan persyaratan kondisi sampel, selanjutnya dilakukan setrifugasi dan aliquoting. Petugas laboratorium akan menyerahkan sampel ke bagian teknis untuk dikerjakan. Setelah ada hasil maka dilakukan validasi bertingkat, mulai dari analis kemudian dilanjutkan oleh supervisor laboratorium. Validasi akhir yang dilakukan oleh Quality Validator dan Dokter Penanggung Jawab. Setelah validasi akhir, maka hasil dicetak dalam bentuk HPsL dan diserahkan kepada Bagian Pelayanan. Validasi Hasil Pemeriksaan Ketika hasil pemeriksaan dikeluarkan, maka hasil tidak langsung diberikan kepada pasien, karena akan dilakukan validasi terlebih dahulu. Proses validasi ini bertujuan untuk memastikan kembali kesesuaian hasil dengan riwayat pasien sehingga tidak terdapat kejanggalan atau bahkan kekeliruan terhadap hasil pemeriksaan. Tahapan validasi sendiri di bagi menjadi tahap validasi pre-analitik, validasi analitik, dan validasi post-analitik. Validasi preanalitik dilakukan untuk memastikan apakah ada kemungkinan kesalahan sampel, jenis sampel, volume, waktu pengambilan, terapi, atau gejala klinis. Validasi analitik dilakukan untuk memastikan bahwa hasil pemeriksaan akurat dengan memerhatikan metode pemeriksaan, interfensi, linieritas, dan nilai rujukan. Apakah hasil yang telah keluar perlu melakukan pemeriksaan ulang. Validasi post-analitik dilakukan untuk memastikan korelasi hasil laboratorium secara keseluruhan, dikaitkan dengan kondisi klinis pasien. Pada tahap ini selain dilakukan validasi oleh quality validator juga melibatkan dokter penanggung jawab. Pastikan waktu pengambilan hasil kita sesuai dengan yang dijanjikan, agar penanganan lebih lanjut dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.

  • 02 Mei 2018 artikel

    Mengapa Bisa Kena Serangan Jantung Meski Kolesterol Normal?

    Serangan jantung merupakan suatu kondisi jantung tidak dapat berfungsi setelah otot penggeraknya rusak akibat kekurangan pasokan oksigen. Penyebab utamanya adalah aterosklerosis (atherosclerosis), merupakan penyempitan atau pengerasan pembuluh darah, yang menyebabkan darah pembawa oksigen terhambat sampai ke jaringan sel otot jantung. Salah satu penyebab terjadinya aterosklerosis yaitu kadar kolesterol darah yang tinggi, sehingga terjadi penumpukkan pada dinding pembuluh darah yang berlangsung lama menjadi gumpalan keras atau plak, yang terbentuk bersama kalsium dan sampah hasil metabolisme tubuh. Tetapi terdapat pula kasus pasien yang dari pemeriksaan sebelumnya memiliki kadar kolesterol normal, ternyata juga mengalami serangan jantung tiba-tiba yang berakibat fatal. Setelah ditelusuri, pasien tersebut memang memiliki kadar kolesterol normal, tetapi banyak ditemukan yang ukurannya kecil tapi padat atau yang disebut small dense, LDL (Low Density Lipoprotein) jenis yang lebih berbahaya sebagai penyebab terjadinya aterosklerosis. LDL itu sendiri terdapat dalam beberapa bentuk, yang dibedakan dari ukuran diameter partikelnya, small dense itulah yang paling berbahaya. Oleh karena itu, pemeriksaan kadar kolesterol darah yang menjadi prosedur standar untuk memperkirakan risiko terjadinya serangan jantung, perlu dilengkapi dengan pemeriksaan lanjut mengenai kondisi LDL yang berperan dalam pembentukan aterosklerosis tersebut. Ambang batas toleransi LDL yang dianggap aman berada pada kisaran 130-160 mg/dl. Namun dari penelitian lebih lanjut, ternyata LDL yang bahaya adalah yang berukuran kecil (small dense), kurang dari 25,5 nm, karena mudah masuk ke lapisan dalam pembuluh darah (intima). Small dense LDL yang terperangkap itu mudah teroksidasi oleh senyawa radikal bebas menjadi LDL teroksidasi (oxidized LDL), membentuk 'sel busa' yang mengembung di dinding pembuluh darah. Ditambah zat lain yang terbawa aliran darah dan menyangkut pada sel busa tersebut akan terbentuk plak, suatu adonan keras yang mengganjal di pembuluh darah. Small Dense LDL terbentuk bila kadar trigliserida dalam darah memiliki jumlah tinggi (hipertrigliseridemia). Small Dense LDL mengalami oksidasi tahap awal menjadi oxidized LDL, yang menyebabkan monosit (salah satu jenis sel darah putih) masuk ke dalam lapisan dinding pembuluh darah sebagai makrofag untuk membersihkan oxidized LDL. Namun, oxidized LDL yang mengalami oksidasi tahap lanjut menyebabkan makrofag berubah menjadi sel busa, yang akan merangsang sel otot polos berpindah ke lapisan dinding pembuluh darah. Sel otot polos ini akan membelah untuk memperbanyak diri dengan akibat terbentuknya plak ateroma yaitu benjolan pada dinding pembuluh darah yang berisi lemak (kolesterol LDL), sel busa, sel otot polos, dan lainnya. Plak ateroma inilah yang menyebabkan saluran pembuluh darah tersumbat.

  • 02 Mei 2018 artikel

    Cegah Gagal Ginjal dengan Albumin Urine Kuantitatif

    Salah satu komplikasi diabetes adalah terjadinya kerusakan ginjal atau disebut nefropati diabetik, yang dapat menyebabkan gagal ginjal terminal sehingga penderita perlu menjalani cuci darah (hemodialisa) atau cangkok ginjal.Nefropati diabetik, ditandai dengan kerusakan glomerulus ginjal, yaitu bagian ginjal yang berfungsi sebagai alat penyaring. Gangguan pada glomerulus ginjal dapat menyebabkan lolosnya albumin (salah satu jenis protein) ke dalam urine (kencing). Karena itu, adanya albumin di dalam urin (disebut albuminuria) merupakan penanda terjadinya nefropati diabetik.Deteksi Dini Gangguan GinjalTahap paling awal terjadinya nefropati diabetik ditandai dengan mikroalbuminuria, yaitu ditemukannya sejumlah kecil protein albumin di dalam urine. Mikroalbuminuria merupakan penanda adanya gangguan pada glomerulus ginjal stadium dini, dimana gangguan ginjal masih dapat diobati. Sementara, bila telah terjadi gagal ginjal, pengobatan sulit dilakukan. Selain itu, mikroalbuminuria ini juga dapat mempertinggi risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler.Jadi, dengan mendeteksi terjadinya mikroalbuminuria maka dapat dideteksi dini terjadinya nefropati diabetik dan dapat memperkirakan risiko penyakit kardiovaskuler. Diabetisi yang mengalami mikroalbuminuria menetap akan berisiko mengalami kerusakan ginjal serius (50% pasien cuci darah adalah penderita diabetes melitus). Oleh karena itu, mengetahui lebih dini adanya mikroalbuminuria merupakan langkah awal yang baik dalam usaha untuk mempertahankan fungsi ginjal dan menghambar penurunan fungsi ginjal lebih lanjut.Pemeriksaan Albumin Urine KuantitatifUntuk mendeteksi mikroalbuminuria, dapat dilakukan dengan pemeriksaan albumin urine kuantitatif, dengan bahan pemeriksaan berupa urine (air kencing). Untuk pemeriksaan ini diperlukan urine yang ditampung selama 24 jam, atau bila tidak memungkinkan dapat digunakan urine yang ditampung dalam selang waktu tertentu (misalnya 4 jam atau semalam) atau urine yang diambil sewaktu (namun hasil pemeriksaan harus dikoreksi terhadap nilai kreatinin).Hasil pemeriksaan albumin urin kuantitatif dapat dikategorikan normal, mikroalbuminuria atau albuminuria (=makroalbuminuria) sesuai dengan kriteri berikut ini :- Dikatakan normal apabila Urine 24 jam (mg/24 jam) < 30, Urine dalam waktu tertentu (mg/menit) < 20, urine sewaktu (mg/mg kreatinin) < 30- Dikatakan Mikroalbuminura apabila Urine 24 jam (mg/24 jam) 30-299, Urine dalam waktu tertentu (mg/menit) 20-199, Urine sewaktu (mg/mg kreatinin) 30-299- Dikatakan Makroalbuminuria apabila Urine lebih besar atau sama dengan 300, Urine dalam waktu tertentu (mg/menit) lebih besar atau sama dengan 200, Urine sewaktu (mg/mg kreatinin) lebih besar atau sama dengan 300.Kapan perlu pemeriksaan albumin urine kuantitatif?- Bagi penyandang diabetes melitus tipe 1, pemeriksaan albumin urin kuantitatif dianjurkan diperiksa pada masa pubertas atau setelah 5 tahun didiagnosis diabetes.- Bagi penyandang diabetes melitus tipe 2, pemeriksaan albumin urin kuantitatif dilakukan sebagai pemeriksaan awal segera setelah didiagnosis diabetes dan secara periodik setahun sekali atau sesuai petunjuk dokter.Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Kontak Prodia 1500 830 atau kunjungi langsung cabang Prodia terdekat Anda.

  • 02 Mei 2018 artikel

    Kanker Serviks 100% Dapat Dicegah

    Kanker serviks (leher rahim) merupakan keganasan yang menyerang serviks, yaitu bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang sanggama (vagina) atau ibarat "pintu masuk". Perubahan sel normal di serviks menjadi sel kanker membutuhkan waktu 10-20 tahun lamanya, sehingga sebetulnya masih ada kesempatan cukup lama untuk mendeteksi dan menanganinya sebelum benar-benar menjadi kanker serviks.Setiap wanita baik usia muda maupun matang yang telah melakukan hubungan seksual atau aktif secara seksual memiliki risiko terkena kanker serviks. Risiko ini akan semakin meningkat dengan adanya beberapa faktor diantaranya menikah, melakukan hubungan seksual di usia belia (< 20 tahun), kehamilan yang sering, kebiasaan bergonta-ganti pasangan seksual, dan kebiasaan merokok. Telah diketahui juga bahwa sekitar 99.7% kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe risiko tinggi.Kebanyakan kanker serviks stadium awal berlangsung tanpa gejala. Sejalan dengan berkembangnya kanker, dapat menimbulkan berbagai gejala seperti perdarahan melalui vagina, keputihan abnormal (bercampur darah dan berbau), nyeri panggul, dan sulit buang air kecil. Sayangnya, saat gejala-gejala tersebut muncul, tingkat kesembuhannya sudah sangat kecil. Padahal jika dapat terdeteksi sejak stadium awal, sebetulnya masih ada peluang kesembuhan yang tinggi.Meski tidak bergejala, kanker serviks stadium awal dapat dideteksi melalui skrining rutin (melakukan pemeriksaan tanpa menunggu munculnya gejal). Beberapa metode skrining kanker serviks yang saat ini dikenal, antara lain:Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA)Merupakan skrining kanker serviks yang paling sederhana, cepat dan murah. Pemeriksaan ini dilakukan dengan megoles larutan asam asetat 3-5% pada serviks. Dalam waktu 10 menit, jika hasil olesan tersebut menunjukkan adanya perubahan warna, yaitu tampak bercak putih, maka kemungkinan terdapat kelainan di sel serviks. Sayangnya, pemeriksaan ini memilki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih rendah dibandingkan dengan metode skrining kanker serviks yang lain.Pemeriksaan Sitologi (Pap Smear)Pap smear adalah pemeriksaan untuk melihat adanya perubahan morfologi (bentuk dan fungsi) sel-sel serviks dengan teknik pewarnaan Papanicolau, kemudian diamati di bawah mikroskop. Bahan pemeriksaan (sampel) untuk pap smear diambil melalui liang vagina. Terdapat 2 (dua) jenis pap smear, yaitu pap smear konvensional dan sitologi serviks berbasis cairan (SSBC).Sitologi serviks berbasis cairan (SSBC) merupakan metode baru untuk meningkatkan keakuratan deteksi kelainan sel-sel serviks. Pada metode ini, sampel dimasukkan ke dalam cairan khusus untuk memisahkan sel-sel atau faktor pengganggu lainnya, sebelum dilihat di bawah mikroskop. Selain itu, preparat (objek yang diperiksa) yang diperoleh akan lebih jelas dan hasil pengamatan di bawah mikroskop lebih akurat, sehingga kelainan kecil pada sel serviks akan lebih mudah terdeteksi.Pemeriksaan HPV-DNAPemeriksaan HPV-DNA adalah pemeriksaan molekuler yang secara langsung bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya Human Papilloma Virus (HPV) pada sel-sel yang diambil dari serviks. Infeksi HPV tipe risiko tinggi, yakni 16, 18, 31, 33, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68, telah diketahui sebagai penyebab utama kanker serviks. Karenanya pada tahun 2003, Food Drug and Administration (FDA) menyetujui penggunaan pemeriksaan HPV-DNA bersamaan dengan pap smear sebagai skrining primer kanker serviks pada wanita, terutama pada usia dia atas 30 tahun.Kata "kanker" memang sering menimbulkan rasa ngeri. Namun jika kengerian itu dapat dicegah, kenapa tidak kita cegah? Lakukan pemeriksaan pap smear dan HPV-DNA secara rutin untuk deteksi dini kanker serviks. Semakin dini terdeteksi, semakin tinggi pula peluang kesembuhannya.

  • 05 Oktober 2017 artikel

    Kapan Premarital Check-Up Sebaiknya Dilakukan?

    Tidak ada batasan waktu yang pasti untuk melakukan premarital check-up atau check-up pra-nikah. Namun, premarital check-up yang dilakukan pada enam bulan sebelum dilangsungkannya pernikahan dianggap ideal. Pertimbangannya, jika ditemukan masalah pada hasil pemeriksaan kesehatan, kedua calon pengantin masih memiliki cukup waktu untuk segera melakukan pengobatan yang diperlukan.Paling tidak premarital check-up dapat dilakukan satu bulan sebelum menikah, karena hasilnya tidak membutuhkan waktu yang lama, dan jika terjadi sesuatu, masih ada waktu untuk melakukan perawatan yang diperlukan.Apa Manfaat Premarital Check-Up?Premarital check-up memiliki manfaat yang penting. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memastikan kondisi kesehatan kedua calon pengantin, termasuk untuk deteksi penyakit menular, menahun, atau diturunkan yang dapat memengaruhi kesuburan pasangan maupun kesehatan janin pada masa yang akan datang. Hal ini penting dilakukan agar dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk pengobatan atau pencegahan lebih lanjut.Misalnya, melalui hasil premarital check-up diketahui calon pengantin wanita belum memiliki kekebalan terhadap virus rubella, dapat memberikan kesempatan untuk melakukan vaksinasi MR sebelum pernikahan. Hal ini penting karena infeksi rubella pada saat hamil dapat berisiko tinggi dan menyebabkan kelainan pada janin, seperti kelainan pendengaran, kelainan jantung, serta masalah perkembangan lainnya. Dengan melakukan premarital check-up, kamu dapat menghindari risiko ini dan mempersiapkan kelahiran bayi yang sehat. Melalui premarital check-up juga dapat mengetahui apakah kamu dan pasangan memiliki kebiasaan tidak sehat atau riwayat penyakit genetik yang dapat membahayakan kesehatan pasangan maupun anak kelak. Mengetahui hal ini dapat menjadi langkah awal untuk mengubah perilaku menjadi lebih sehat guna membentuk keluarga sehat dan bahagia.Bagaimana Jika Ditemukan Masalah Pada Hasil Premarital Check-Up?Kekhawatiran ditemukannya masalah pada hasil premarital check-up seringkali menjadi alasan beberapa calon pengantin enggan melakukan pemeriksaan tersebut. Namun sebenarnya, premarital check-up justru dapat membantu mencegah atau menghindari risiko terburuk yang mungkin terjadi setelah menikah.Jangan biarkan penyesalan muncul setelah menikah hanya karena masalah kesehatan yang sebenarnya dapat diatasi jika terdeteksi sejak awal. Melalui premarital check-up, kamu dan pasangan memiliki kesempatan untuk memahami kondisi kesehatan masing-masing dengan lebih baik, serta mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan. Jika ditemukan masalah dalam hasil premarital check-up, segera berkonsultasi ke dokter.Premarital check-up memiliki manfaat penting dalam memastikan kesehatan pasangan serta mempersiapkan kehidupan keluarga yang sehat dan bahagia. Jangan ragu untuk melakukan premarital check-up  dan menjadikannya sebagai bagian penting dalam persiapan pernikahan.Kini kamu bisa melakukan premarital check-up lebih mudah dan praktis dengan aplikasi U by Prodia. Ayo, pesan sekarang dan manfaatkan layanan Prodia Home Service untuk kenyamananmu! 

  • 12 Juni 2017 artikel

    Bagaimana Mencapai Kesehatan Keluarga yang Optimal?

    Kesehatan keluarga dapat diartikan sebagai keadaan sehat fisik, jasmani dan sosial dari setiap individu yang terdapat dalam satu keluarga. Setiap anggota keluarga akan saling mempengaruhi untuk mencapai status kesehatan keluarga yang optimal.Kesehatan keluarga bukan suatu hal yang dapat dicapai secara tiba-tiba pada waktu tertentu, namun dibutuhkan suatu proses dinamis yang terkait dengan perilaku keseharian seperti kebiasaan mencuci tangan, konsumsi makanan bergizi dan vitamin, istirahat yang cukup, menghindari stres dan rutin berolahraga, serta satu hal yang tak kalah pentingnya yaitu check up kesehatan secara berkala.Check up kesehatan sangat diperlukan agar kita selalu waspada jika ada tanda-tanda penyakit, karena jika sudah menjadi parah seringkali dapat menyebabkan kecacatan maupun kematian. Dengan check up kesehatan secara berkala, penyakit yang berpotensi membahayakan kesehatan keluarga tersebut akan lebih mudah untuk ditangani dan tidak akan sampai mengancam kehidupan anggota keluarga.Panel Check Up Kesehatan KeluargaProdia peduli pada kesehatan keluarga dan siap membantu setiap anggota keluarga untuk membangun keluarga yang hebat atau family wellness (sehat, bahagia dan sejahtera) dengan menyediakan panel check up kesehatan sesuai dengan usia atau perkembangan serta risiko kesehatannya. Setiap anggota keluarga memiliki usia dan jenis kelamin yang berbeda, sehingga risiko kesehatan dan kebutuhan pemeriksaan laboratoriumnya pun berbeda. Untuk memudahkan pelanggan memilih jenis pemeriksaan yang sesuai bagi setiap anggota keluarga, Prodia menyediakan panel check up kesehatan berikut:Panel Check Up Anak merupakan sekumpulan pemeriksaan laboratorium yang dirancang untuk mendeteksi penyakit dan menentukan risiko penyakit pada anak yang dikelompokkan berdasarkan usia, serta disesuaikan dengan prevalensi penyakit terbesar di masyarakat.Panel Obesitas pada Anak dianjurkan untuk diperiksa pada anak yang terlihat gemuk tanpa memandang usia. Panel ini mampu memberikan gambaran status kesehatan anak saat ini dan menilai risiko kesehatan yang mungkin muncul di masa mendatang akibat kondisi obesitas, seperti penyakit jantung, perlemakan hati, hipertensi, dan gangguan ginjal.Panel Check Up Anak Muda (Young Generation) merupakan pemeriksaan minimal lengkap yang dianjurkan bagi individu berusia 18-30 tahun untuk mengetahui kualitas kesehatan secara umum pada usia muda, baik yang menyangkut fungsi organ maupun kondisi metabolisme tubuh. Dengan panel ini dapat dideteksi ada tidaknya kelainan atau penyakit yang sering dijumpai dan potensial membahayakan seperti kelainan darah, gangguan metabolisme lemak dan gula, gangguan fungsi hati dan ginjal, serta infeksi virus Hepatitis.Panel Check Up Kesehatan merupakan sekumpulan pemeriksaan laboratorium yang dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kualitas kesehatan secara umum, mendeteksi gangguan kesehatan sedini mungkin, dan memberikan informasi yang dibutuhkan untuk tindakan selanjutnya, serta mengetahui risiko terjadinya gangguan kesehatan di kemudian hari. Panel ini dianjurkan untuk diperiksa pada individu berusia > 30 tahun.Wellness Testing merupakan bagian dari preventive medicine strategy (tindakan pencegahan penyakit) yang mencakup sekelompok pemeriksaan laboratorium untuk mengidentifikasi risiko pada tahap dini perkembangan penyakit sebelum gejala klinik dari suatu penyakit terdeteksi dan menyebabkan masalah serius.Panel Geriatri dianjurkan untuk diperiksa pada individu berusia > 55 tahun atau usia lanjut (usila) guna mendeteksi dini adanya penyakit degeneratif (penyakit yang menyertai proses penuaan) serta gangguan atau penyakit yang sering dialami pada usila seperti kelainan atau penyakit darah, gangguan atau infeksi saluran pencernaan, gangguan fungsi hati, ginjal dan tiroid, penyakit kardiovaskular, demensia (pikun), dan osteoporosis. Membiasakan setiap anggota keluarga untuk memantau kesehatan akan menciptakan kebiasaan membuat keputusan tepat menyangkut kesehatan dan menanamkan kebiasaan hidup sehat, sehingga kesehatan keluarga pun tercapai dengan optimal. 

  • Hasil tidak ditemukan.
  • Hasil tidak ditemukan.