Tuesday, 22 June 2021

Benarkah Pemeriksaan Serum Magnesium Tidak Berguna?

Saat ini Vitamin D menjadi trending untuk meningkatkan imunitas pada masa pandemi ini. Namun ada beberapa faktor yang juga mempengaruhi kecukupan Vitamin D, salah satunya adalah status kecukupan Magnesium (Mg). Prevalensi kekurangan Mg ini cukup tinggi, berdasarkan studi yang dilakukan di Indonesia sebesar 17.2%, sehingga penting untuk mengetahui kecukupan di dalam tubuh.

Fungsi penting dari Mg di dalam tubuh adalah sebagai regulator (pengatur), kofaktor (bahan yang membantu) pada lebih dari 300 reaksi enzimatik (proses) yang melibatkan metabolisme energi dan sintesis asam nukleat (DNA). Selain itu, metabolisme dari kelenjar tiroid dan pankreas juga sangat dipengaruhi oleh Mg.

Lalu, bagaimanakah cara terbaik menilai kecukupan Mg di dalam tubuh?

Mg yang diketahui merupakan kation intraseluler terbesar kedua setelah Kalium. Bagian utama dari pengaturan keseimbangan Mg di dalam tubuh ini ada pada usus, ginjal dan tulang (Gambar 1).

Gambar 1

 

Mg yang berasal dari asupan diserap di usus, lalu diserap ke dalam serum (darah), lalu tulang akan menyimpan Mg dan juga akan memberikan kembali ke serum apabila terjadi kondisi kekurangan. Ginjal di sini memainkan peran penting dalam mengatur Mg tubuh dengan melakukan reabsorpsi (penyerapan kembali) Mg yang disaring. Ketika Mg berlebihan, maka ekskresi Mg urin meningkat di mana kalau kondisi kekurangan Mg, maka ekskresi urin pun berkurang.

Untuk dapat mengetahui kecukupan Mg di dalam tubuh, ada beberapa jenis pemeriksaan seperti:

  1. Pemeriksaan Magnesium loading (retensi)
  2. Pemeriksaan Magnesium total (serum atau plasma)
  3. Pemeriksaan Magnesium dengan sampel urine 24 jam
  4. Konsentrasi Magnesium dalam sel darah merah/Red Blood Cell (RBC)
  5. Konsentrasi Magnesium dalam tulang/ Bone Magnesium Concentration

Dari pemeriksaan tersebut di atas yang dianggap sebagai baku emas adalah pemeriksaan Magnesium loading (retensi). Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memberikan pembebanan sejumlah Mg yang diketahui jumlahnya secara intravena. Kemudian selanjutnya dilihat berapa jumlah Mg yang disekresikan dalam urine selama 24 jam, dengan memeriksakan sampel urine yang ditampung 24 jam. Dengan pemeriksaan ini dapat memungkinkan untuk melakukan perhitungan persentase dosis Mg yang dapat ditahan oleh tubuh. Namun kelemahan dari pemeriksaan ini sangatlah rumit, memakan waktu dan tidak ideal untuk skrining rutin, serta dipengaruhi oleh kondisi ginjal, sehingga tidak cocok untuk individu yang mengalami gangguan ginjal.

Selain dengan pemeriksaan Magnesium loading, Mg yang merupakan kation intraseluler ini juga bisa diketahui statusnya dengan menggunakan pemeriksaan dengan sampel RBC, di mana dapat menunjukkan kadar yang lebih tepat dibandingkan dengan pada serum atau plasma karena pada serum masih ada bias yang dihasilkan karena ikatan dengan albumin. Namun mengapa metode ini tidak digunakan menjadi skrining rutin, karena sampel dengan RBC sangat tidak stabil, sulit pada penangan sampelnya karena punya risiko lisis yang tinggi yang tinggi dibanding sampel serum, kemudian metode pemeriksaannya belum di setujui oleh FDA, sehingga syarat untuk melakukan pemeriksaan laboratorium yang baik yakni dengan metode yang dapat tervalidasi dengan baik.

Dikarena kan keterbatasan pemeriksaan-pemeriksaan untuk menilai status Mg ini, maka saat ini untuk mengetahui konsentrasi Mg dalam tubuh, metode yang paling umum digunakan dan dapat dijadikan pemeriksaan rutin adalah dengan mengetahui konsentrasi total Mg dalam serum atau plasma. Pemeriksaan ini seperti yang tergambarkan pada regulasi Mg di dalam tubuh, bahwa Mg dalam darah/serum menunjukkan kondisi kecukupan Mg yang diserap dalam usus, Mg yang diberikan oleh tulang pada saat kekurangan dan Mg yang diserap kembali oleh ginjal.
Selain itu mengapa pemeriksaan yang paling sering digunakan untuk menilai status Mg pada tubuh adalah Mg serum atau plasma, karena pada studi National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) telah dapat menentukan interval referensi dari populasi untuk total Mg serum sehingga dengan demikian konsentrasi serum Mg dibawah < 1,70 mg/dL tersebut dikatakan hipomagnesium. Hal ini mampu membantu untuk mengetahui kondisi-kondisi yang terkait dengan kekurangan Mg di dalam tubuh.

Jadi masih bertanya, apakah pemeriksaan Magnesium serum itu berguna atau tidak? Jawabannya tentu saja berguna, karena selain untuk sebagai pemeriksaan pelengkap yang dibutuhkan untuk mengetahui apakah vitamin D nya optimal atau efektif, tapi juga bisa pada kondisi lainnya yang memerlukan pemantauan status Mg seperti diabetes tidak terkontrol, ataupun gangguan tiroid, low back pain, asma dll.

 

Referensi:

  1. V.R. Preedy, V.B. Patel (eds.), Handbook of Famine, Starvation, and Nutrient Deprivation, DOI 10.1007/978-3-319-40007-5_6-1
  2. Bertinato J. Magnesium deficiency: prevalence, assessment, and physiological effects. In: Preedy VR, Patel VB, eds. Handbook of Famine, Starvation, and Nutrient Deprivation. Switzerland: Springer InternationalPublishing AG; 2019, https://doi.org/10.1007/978-3-319-40007-5_6-1.
  3. Workinger J, Doyle R, Bortz J. Challenges in the Diagnosis of Magnesium Status. Nutrients. 2018;10(9):1202.
  4. Bertinato J. Magnesium and Relationship with Diabetes. Bioactive Food as Dietary Interventions for Diabetes. 2019;:249-264.



 

2889 Views